KEBETULAN PASTI BERTEMU

Do you think the universe fight for souls to be together? Some things are too strange and strong to be coincidence (Serendipity) -Emery Allen

Boro, 29 October 2020 16.30 PM

Sore itu, selepas perhentian kami dari Taman Doa Maria Ratuning, saya dan partner memacu kendaraan menuju Desa Boro. Pada rencana awal, seharusnya kami berkunjung terlebih dahulu ke Gua Maria Sendangsono. Namun karena kesalahan asumsi terkait jam operasional selama masa pandemi (tutup pukul 16.00 PM), maka kami pun melakukan perubahan rencana.

Boro merupakan sebuah desa yang terletak di Banjarasri, Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Boro dipilih sebagai tempat istirahat oleh kedua orang tua saya untuk menikmati masa pensiun selepas berkarya di Kalimantan Timur.

Desa Boro berada di kaki perbukitan Menoreh dengan pemandangan alam yang hijau dan asri. Hamparan sawah dengan aliran sungai yang berasal dari Sungai Progo menambah keindahan desa ini. Boro tidak hanya menawarkan pesona wisata alamnya saja tapi juga wisata rohani.

Hamparan Sawah dan Aliran Sungai Desa Boro. Image Via : No Name

Selama dalam perjalanan menuju ke Boro, rasa tidak percaya saya masih saja menempel dengan sangat kuat. Bagaimana mungkin hari itu saya akan bertemu dengan seseorang dimana semesta hampir saja membawa kami untuk tidak dapat bertemu satu sama lain.

Setiba di tempat tujuan, kami langsung memarkirkan kendaraan kami di depan Rumah Sakit Santo Yusup Boro. Karena masih dalam kondisi tidak normal, dan demi menjaga kesehatan satu sama lain, saya dan partner hendak saling menyemprotkan cairan alkohol 70% di sekujur tubuh kami sebelum bertemu dengan yang lain.

Saat sedang menyemprotkan cairan alkohol, nampak seorang wanita tua datang menghampiri kami. Dengan wajah tersenyum beliau menyapa dan bercerita bahwa beliau adalah salah satu penghuni dari Panti Wreda Santa Monika Boro. Ada rasa ingin memeluk dan mencium tangan beliau. Namun rasa takut dalam diri saya lebih kuat untuk tidak mendekat. Saya yang dalam kondisi tidak steril ini bisa saja menyakiti beliau. Semoga beliau tidak berpikir saya terlalu sombong karena menjaga jarak. Buat semua para Eyang, Mbah, Avo, I Love You. Sehat selalu.

Kami pun meneruskan ritual semprot menyemprot tubuh. Tampak dari jauh saya melihat seorang wanita dengan pakaian putih nya yang bercahaya. Tampak senyumnya yang manis namun ada sedikit ragu. Hendak akan saling memanggil namun terdiam sesaat meyakinkan diri. Setelah yakin, dengan segera saya menyambut dan mencium tangan beliau layaknya orang yang dituakan. Tanpa ragu akhirnya kami saling berpelukan.

“Suster Pasifica… akhirnya kita bertemu. Hahaha”

“Hahaha. Finally.”

Dalam pertemuan itu, Suster Pasifica, OSF yang merupakan seorang Biarawati dan juga seorang tenaga kesehatan (Perawat) mengajak kami untuk touring kecil menjelajah Susteran St. Fransiskus Boro dan Rumah Sakit Santo Yusup yang masih kental dengan ciri khas bangunan tua Belanda. Walaupun ingin tetap menjaga keaslian bangunan, namun tampak terlihat dibeberapa sisinya membutuhkan sentuhan renovasi.

Ruang Santai Susteran St. Fransiskus

Mengutip dari Wikipedia, di Desa Boro terdapat sebuah Komplek Misi Boro. Di dalam Komplek Misi Boro terdapat beberapa bangunan seperti Gereja Theresia Liseux Boro, Rumah Sakit Santo Yusup, Susteran St. Fransiskus Boro, Panti Asuhan Sancta Maria Boro, Pabrik tenun Sancta Maria, Bruderan F.I.C Boro, Taman Kanak-Kanak, dan Sekolah Dasar Marsudirini, serta Sekolah Menengah Pertama Pangudi Luhur. Pembangunannya sendiri berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938. Jadi tidak heran bahwa Komplek Misi Boro ini masih sangat kental dengan sentuhan bangunan khas Belanda.

Rumah Sakit St. Yusup Boro. Image via : RSU St. Yusup Boro

Untuk para pembaca terkasih yang mungkin sedang mencari tempat untuk menyalurkan bantuan materi dan non materi baik secara pribadi, berkelompok atau perusahaan yang sedang menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR), Komplek Misi Boro ini dapat menjadi pilihan tempat yang tepat untuk dapat anda kunjungi. 🙂

Seperti reuni kecil, saya dan Suster Pasifica mengenang kembali saat-saat bagaimana kami bisa saling mengenal. Kisah berawal saat kedua orang tua saya datang berkunjung ke Susteran St. Fransiskus Boro. Suatu kebetulan, beliau-lah yang membukakan pintu bagi kedua orang tua saya. Suatu kebetulan juga, beliau dan papa saya berasal dari daerah yang sama (Timor Leste). Sungguh kebetulan yang sangat kebetulan. 🙂

Kami memang tidak pernah saling bertatap wajah secara langsung karena saya yang berada di Jakarta dan beliau di Boro. Namun dibalik persaudaraan virtual kami, beliau menjadi salah satu dukungan semesta dari sekian banyak dukungan yang ada untuk menjadi bagian dalam proses pertumbuhan iman dan peziarahan saya.

Kami memang nyaris tidak akan bertemu. Seharusnya beliau sudah akan berpindah tugas ke Atambua pada awal Oktober 2020. Doa saya saat itu agar beliau dikuatkan dalam tugas perutusan ditempat yang baru dan kami dapat dipertemukan suatu saat nanti dimana pun semesta menghendaki. Tentu saja sambil menangis dan bersedih. Hahaha.

Bagaimana semesta tiba-tiba menghendaki, karena 1 dan lain hal akhirnya jadwal beliau berubah. Beliau baru akan meninggalkan Boro pada awal November 2020. Suatu kebetulan semesta lainnya, saya secara tiba-tiba dapat melakukan perjalanan ziarah Gua Maria dimasa pandemi yang tanpa rencana itu. Sungguh kebetulan yang sangat kebetulan. 🙂

Terkadang saya tidak mengerti, bagaimana semesta dapat memberi suatu kebetulan-kebetulan itu. Saya diperkenankan memperoleh banyak hal-hal luar biasa dalam proses kehidupan melalui kebetulan-kebetulan itu. Kebetulan yang sangat indah sedari awal atau bahkan kebetulan yang menyakitkan.

Teringat ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saya bertemu dengan suatu kebetulan yang menyakitkan saat diawal. Saat itu saya bersekolah di sebuah sekolah asrama homogen khusus wanita. Bagi pembaca yang pernah sekolah dan tinggal di asrama pasti sangat tahu bagaimana rasanya menerima didikan seorang Biarawati / Suster 🙂

Sekolah Masa SMA. Image Via : Sekolah Kita

Di awal tahun pertama, saya bertemu dengan seorang Suster yang sampai saat ini, saya pun tidak sanggup membayangkan bagaimana “galak”-nya beliau di masa itu. Dari buku komik yang disita dan tidak pernah kembali, dihukum menyapu halaman karena tidur saat jam belajar, sampai semua laporan kenakalan disampaikan kepada orang tua saya. Semua sudah saya lalui saat itu. Hahaha.

Pertikaian kami dimulai saat beliau menasehati saya (Dulu saya beranggapan beliau menyumpahi saya). Saat itu beliau mengatakan bahwa saya tidak akan naik kelas dengan kelakuan saya. Dengan hati yang menyimpan dendam (Emosi ala ABG labil), saya bertekad membuktikan kepada beliau bahwa apa yang beliau katakan adalah SALAH. Sampai pada akhirnya saya berhasil membuktikan kepada beliau dengan memperoleh posisi yang cukup baik dalam kelas dan masuk kedalam jurusan favorit saat SMA pada masanya.

Kebetulan kami itu memang sangat menyakitkan diawal pertemuan. Namun seiring berjalannya waktu, segala sesuatunya berubah menjadi hal yang membahagiakan hingga saat ini. Beliau resmi menjadi salah satu dukungan hebat semesta dalam pertumbuhan iman dan peziarahan saya.

Hallo Suster Maria Agustin, CB, yang selalu menunggu anak “nakal” nya ini untuk datang ke Bali :). Terima kasih sudah “berteriak” kepada saya pada saat itu. Terima kasih juga sudah mendampingi saat saya berada di titik rendah. Terima kasih selalu menemani pada saat saya harus kehilangan mama diumur yang masih labil. Terima kasih selalu membantu dalam doa dan turut menghantarkan saya untuk bisa sampai saat ini. I Love You Suster Maria Agustin. Bali I’m Comming. 🙂

Sering kali yang kita kenal dekat tapi justru menjauh. Yang tidak kita kenal datang mendekat. Yang seakan saudara dalam duka menjadi lawan. Yang awalnya bertikai dapat menjadi saudara. Ada pula yang selalu kita impikan tapi tidak berujung kenyataan. Yang tidak pernah diimpikan datang tiba-tiba seperti kado terindah.

Seo Hok Gie pernah berkata : Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya.

Dalam hidup tidak ada kebetulan yang tidak akan bertemu. Kebetulan pasti bertemu atau belum waktunya.

Dalam sebuah pertemuan akan ada yang indah dan ada pula yang menyakitkan. Namun keduanya akan selalu memiliki arti kehidupan didalamnya. Kita tahu sekarang, bahwa Tuhan Semesta Alam turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.

Jangan pernah sedih dan takut untuk tidak bertemu. Karena KEBETULAN PASTI BERTEMU. 🙂

Roma 8 : 28. Image Via : DailyVerses.net

Waktu sudah semakin sore dan Suster akan melanjutkan kegiatan beliau. Saya akhiri pertemuan sore itu dengan Suster Pasifica dan akan bertemu kembali untuk esok harinya. Dengan membawa hantaran tugas penting dari beliau untuk papa saya, maka saya dan partner segera menuju ke rumah kedua orang tua saya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit Santo Yusup.

Terima Kasih Tuhan untuk kebetulan yang indah di hari ini dan hari-hari yang lalu. Kiranya kebetulan-kebetulan di masa depan akan indah pada waktu-Nya.

18.15 PM

“Kita kerumah nya om sama tante, mba?”

“YES! Let’s Go. Makan gratis. Hahaha”

Recommended Articles