GUA MARIA JATININGSIH

BURN YOUR EGO! BEFORE IT BURNS YOU!

Sleman, 30 October 2020 07.30 AM (Perhentian 6)

Dengan kondisi nyawa yang masih setengah sadar, pagi itu saya dan partner memacu kendaraan kami menuju kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Karena hari itu kami sudah memiliki setumpuk perencanaan yang padat, maka kami memutuskan untuk memulai petualangan kami pagi-pagi sekali.

Pada hari sebelumnya kami kembali dari perjalanan cukup malam. Setelah menerima jamuan makan malam yang disediakan orang tua saya di Boro, dan karena kondisi pandemi yang tidak memungkinkan kami untuk dapat bermalam, maka kami harus kembali ke rumah rekan saya di daerah Sleman, Yogyakarta.

Pagi itu perjalanan membawa kami menuju Gua Maria Jatiningsing. Gua Maria Jatiningsih dapat menjadi salah satu pilihan ziarah Gua Maria yang wajib dikunjungi ketika anda mengunjungi Yogyakarta. Lokasinya sendiri berada di Jl. Jitar, Pakelan, Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walau saya sendiri sering melewati jalan ini ketika pulang ke rumah orang tua saya di Boro, namun ini adalah pertama kalinya bagi saya dapat mengunjungi Gua Maria Jatiningsih.

Gua Maria Sendang Jatiningsih (Gua Maria Jatiningsih) dibangun tepat di pinggir aliran Sungai Progo. Karena berada di sekitar pinggir sungai, udara disekitar Gua Maria Jatiningsih menjadi sejuk dan segar. Gua Maria Jatiningsih juga memiliki sumber air yang mengalir dan diberi nama Tirta Wening Banyu Panguripan atau yang bermakna air bening pemberi kehidupan. Sumber air dari rahmat Tuhan yang sungguh-sungguh mendatangkan kedamaian.

Selama masa pandemi, jam operasional Gua Maria Jatiningsih dibuka pada pukul 08.00 AM – 21.00 PM. Saat itu kami masih punya waktu setengah jam lagi hingga pintu masuk dibuka. Sembari menunggu didalam kendaraan, rekan saya memutuskan untuk kembali memejamkan mata nya sejenak demi mengumpulkan separuh nyawa yang masih tertinggal di dunia mimpi. Sedangkan saya, memilih untuk menulis beberapa peristiwa penting pada buku catatan kecil yang selalu saya bawa.

Pengumuman Jam Operasional

Saat menunggu terdapat 2 rombongan yang turut serta bersama-sama kami menanti pintu masuk dibuka. Rombongan pertama merupakan rombongan Pesepeda Wisata Rohani yang terdiri dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Sedangkan rombongan kedua yang berasal dari sebuah lingkungan Gereja datang dengan bus yang cukup besar. Saat itu memang masih dalam Bulan Rosario dimana umat Katolik yang memiliki devosi kepada Bunda Maria melakukan ziarah ke Gua-gua Maria.

Waktu menunjukan tepat pukul 08.00. Terlihat kedua rombongan yang menunggu telah memasuki area taman doa. Segera saya membangunkan partner saya untuk dapat turut serta memasuki area taman doa. Kami sadar kondisi kami saat itu terlihat sedikit lelah. Namun dengan niat yang kami miliki, dapat memberikan semangat untuk dapat menjalani peziarahan ini

Saat memasuki area taman doa, terlihat beberapa tempat sudah dipenuhi dengan kedua rombongan itu, kami segera mengambil posisi diatas yang berada dekat dengan Gua Maria. Ditengah hangat nya pancaran sinar matahari saya pun segera memulai darasan rosario saya.

Karena dalam kondisi lelah dan tidak ingin pikiran melayang-layang, saya mencoba untuk dapat memusatkan pikiran dan hati kepada darasan rosario saya. Baru saja saya akan memulai peristiwa rosario yang pertama, tiba-tiba saja konsentrasi saya terpecah dengan suara kencang. Salah satu dari rombongan mendarasan rosario mereka secara berkelompok.

Ego saya tiba-tiba muncul. Saya mulai kesal. Bagaimana mungkin di tempat sehening ini mereka berdoa secara bersama-sama dan mengganggu para pendoa yang lain nya? Dengan mempertahankan ego yang masih ada, saya tetap mendaraskan rosario peristiwa pertama dengan turut bersuara agak keras demi melawan suara itu.

Lalu apa yang saya dapatkan saat melawan suara itu? Bukan damai yang saya peroleh tapi justru kekesalan yang semakin bertambah. Selepas darasan rosario peristiwa pertama, saya hentikan sejenak doa saya. Dalam hati saya berseru, “Tuhan saya lelah!”

Tiba-tiba terdengar suara hati saya berkata. “Daripada kamu harus melawan dan berjalan sendiri, bukan kah lebih baik berjalan bersama-sama?”

Selama hening selepas peristiwa pertama, saya hanya mendengarkan darasan rosario yang dibawakan oleh para rombongan itu. Saat mereka memasuki peristiwa yang kedua, saya memutuskan untuk turut serta mengikuti darasan doa rosario mereka dan melanjutkan darasan rosario yang sempat terhenti. Akhirnya saya menyelesaikan darasan rosario bersama-sama dengan mereka.

Pada perhentian ke-6 ini saya dihadapkan pada peristiwa Veronika yang mengusapi wajah Yesus. Veronika yang saat itu bersimpati pada Yesus, maju mendekati Yesus, lalu mengusap wajah-Nya. Dengan tindakannya yang sederhana Veronika telah menolong orang yang menderita.

Sesungguhnya Tuhan tahu saya lelah berdoa seorang diri. Tapi dengan ego yang saya miliki, saya tidak menyadari bahwa Tuhan sedang mengirimkan dukungan-Nya untuk mengusap lelah saya.

Banyak dari kita (termasuk saya) lebih mendahulukan ego. Ego yang keluar dan mementingkan diri sendiri dipercaya lebih penting daripada apa pun di dunia. Saya yang melawan saat berdoa beranggapan bahwa kepentingan doa saya-lah yang paling penting.

Terkadang kita tidak sadar. Untuk dapat mencapai banyak hal dalam hidup, kita juga membutuhkan bantuan, kerjasama, dan dukungan orang-orang di sekitar kita. Bukan kah bekerja secara tim akan lebih baik dan maksimal dari pada harus bekerja seorang diri?

Jangan pernah memandang sebelah mata apalagi melupakan orang-orang yang berada disekitar kita. Karena mereka adalah suatu bentuk dukungan yang Tuhan kirim untuk membasuh peluh kita. Kiranya lelah kita dapat sirna dan senantiasa menemukan kedamaian.

Kami akhiri perhentian kami saat itu dengan menikmati sejenak keindahan pinggiran Sungai Progo sebelum melanjutkan perjalanan kami ke perhentian berikutnya.

09.00 AM

“Masih ngantuk non?”

“Gak mb. Pengen makan yang manis-manis”

“Cuss mampir cari cemilan cepuluh”

Recommended Articles