MISA TAHUNAN LEGIO MARIA, SENATUS BEJANA ROHANI 2022

Bila kita setia kepada hal-hal yang kecil maka kita bersama-sama akan bertumbuh sebagai pribadi yang semakin bermartabat yang artinya menjadi pribadi yang semakin mengasihi, semakin peduli, semakin besaksi.

Jakarta, 19 September 2022

Misa Tahunan Senatus merupakan sebuah Misa yang biasanya diadakan setiap 1 tahun sekali pada bulan September. Misa ini diselenggarakan sebagai perayaan syukur atas ulang tahun Legio Maria yang dirayakan setiap tanggal 7 September.

Untuk merayakan 101 tahun Legio Maria, Misa Tahunan Senatus tahun 2022 kembali diadakan pada tanggal 18 September 2022 dan bertempat di Gereja St. Andreas – Paroki Kedoya sebagai tuan rumah penyelenggara.

Credit Picture : Senatus Bejana Rohani

Dihadiri secara offline oleh ribuan Legioner dari seluruh presidium yang tergabung dalam Senatus Bejana Rohani dan turut serta disiarkan secara online, Misa Tahunan Senantus kali ini mengangakat tema menjadi manusia yang bermatabat yaitu “Semakin Mengasihi, Semakin Peduli dan Semakin Bersaksi.”

Rangkaian acara dimulai dengan Doa Tessera yang kemudian dilanjutkan dengan Misa yang dipesembahkan secara konselebrasi dimana Bapak Kardinal Ignatius Suharyo sebagai pemimpin utama.

Dalam homilinya, Bapak Kardnial Ignatius Suharyo mengajak seluruh Legioner untuk bersama-sama bertumbuh sebagai pribadi yang semakin bermartabat, menjadi pribadi yang dapat memilih hal baik dan benar, menjadi pribadi yang semakin mengasihi, semakin peduli dan semakin besaksi.

Berikut transkrip homili dari Bapak Kardnial Ignatius Suharyo yang dapat menjadi pengingat kita para Legioner untuk menjadi pribadi yang semakin bermartabat.

Transkrip Homili :

Perayaan Ekaristi Misa syukur 101 Tahun Legio Maria yang kita lakukan adalah bagian dari Karya Agung Tuhan. Kita tetap dapat merawat dan mengembangkan semangat dan antusiasme kita sebagai Legioner.

Pada kalimat terakhir dari Bacaan Injil Lukas 16 : 1-13 mengatakan : “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Bila kita sungguh-sungguh menjadi pribadi yang mengabdi kepada Allah itu adalah hakikat jati diri manusia Kristiani yang sesuai pada panggilannya, mengabdi kepada Allah. Sedangkan mengabdi kepada Mamon artinya merendahkan martabat diri sendiri dan tidak menghormati martabat manusia.

St. Ignatius Loyola mengatakan bahwa mengabdi Allah itu dirumuskan didalam latihan rohani yang merupakan bagian asas dan dasar yang paling penting. Manusia diciptakan untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah. Sedangkan yang lain adalah sarana yang dapat membantu manusia untuk berjalan lurus sesuai dengan maksud Tuhan yang menciptakan.

Menurut ajaran Gereja dikatakan bahwa siapa pun kita, dalam status apapun kita, kita semua dipanggil dengan panggilan yang sama yaitu Menuju Kesempurnaan Kasih, Menuju Kesempurnaan Kesucian, Menuju Kesempurnaan Kristiani.

Dalam hal ini kita semua yakin bahwa salah seorang manusia yang sampai kepada titik itu adalah Bunda Maria. Seluruh hidup nya Ia pergunakan untuk mengabdi Allah. Seluruh hidupnya adalah langkah-langkah kecil menuju kesempurnaan kasih, kesempurnaan kesucian dan kesempurnaan kristiani.

Hal yang paling jelas terlihat adalah ketika Bunda Maria menerima kabar gembira dari Malaikat. Menurut sudut pandang kita, mungkin bagi Bunda Maria kabar itu adalah hal yang membingungkan. Namun dalam keadaan yang membingungkan Bunda Maria memilih jalan yang tidak mudah. Bunda Maria tidak memilih jalan yang  menyenangkan dan atas pertimbangan sendiri. Bunda Maria memilih jalan yang baik dan benar yang sesuai dengan tuntunan Roh Kudus.

Ketika manusia dihadapkan dengan kebingungan, manusia dapat memilih jalan yang bermacam-macam. Namun ditengah kebingungan, Bunda Maria memilih untuk berkunjung kepada saudarinya, Elisabeth.  Dalam perjumpaan itu, baik Bunda Maria maupun Elisabeth menemukan panggilan mereka masing-masing. Bunda Maria memilih menjadi Ibu Yesus.

Kita sebagai pengikut Bunda Maria diajak untuk menanggapi panggilan mengabdi kepada Allah.  Bertumbuh menuju kesempurnaan kasih, kesempurnaan kesuciaan dan kesempurnaan kristiani dengan jalan memilih yang baik dan benar. Bukan memilih yang mudah dan menyenangkan saja.

Memberi tempat untuk Roh Kudus agar dapat membimbing setiap langkah kita sehingga keputusan-keputusan tidak kita ambil hanya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan kita sendiri.

Credit Picture : Internal Legio Maria Porta Caeli

Mengambil contoh yang pernah diungkapkan oleh Paus Fransiskus, kita harus mengambil jalan-jalan kecil dan setia kepada hal-hal kecil.  

Sebagai cerita ada seorang ibu pergi berbelanja. Ditempat belanja dia bertemu dengan tetangganya. Mulailah sebuah pembicaraan yang seru antara 2 sahabat. Sampai pada suatu titik mulailah mereka membicarakan hal jelek tentang orang lain. Berbicara tentang orang lain adalah hal yang mudah. Namun saat itu sang ibu  berkata tidak ingin bicara jelek tentang orang lain.

Paus Fransiskus mengatakan inilah pilihan. Satu langkah maju menuju kesempuraan kasih. Menjadi pribadi pengabdi Allah.

Kemudian dalam lelah Ibu tersebut pulang kerumah. Dirumah salah seorang putra nya meminta waktu untuk berbicara mengenai harapan-harapannya. Ibu itu mungkin saja akan mengatakan besok saja, ibu sudah lelah. Namun meskipun lelah ibu itu duduk mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang ingin disampaikan oleh putranya.

Paus Fransiskus mengatakan inilah pilihan. Satu langkah maju menuju kesempuraan kasih. Menjadi pribadi pengabdi Allah.  

Suatu waktu ibu itu merasa cemas. Didalam kecemasan dia teringat akan Bunda Maria Penolong Abadi. Ibu itu mengambil rosario dan berdoa. Mohon kekuatan dari Bunda Maria Penolong Abadi. Dalam kecemasan setiap orang mungkin memiliki pilihan yang macam-macam. Cemas pergi ke mall. Cemas lihat bioskop. Cemas hura-hura. Namun dalam cemas, ibu itu memilih berdoa Rosario.

Paus Fransiskus mengatakan inilah pilihan. Satu langkah maju menuju kesempuraan kasih. Menjadi pribadi pengabdi Allah.  

Kali berikutnya, ibu itu keluar rumah. Dia melihat seorang pengemis yang berdiri sendirian terlihat lemas dan capek. Ibu itu mungkin saja enggan berhenti dan menyapa atau mungkin berkomentar “Orang malas, salahnya sendiri.” Alih-alih berkomentar, Ibu itu justru mendekat dan menyapa pengemis itu dengan kata-kata yang bersahabat lalu memberi sesuatu yang cukup untuk membeli makan.

Paus Fransiskus mengatakan inilah pilihan. Satu langkah maju menuju kesempuraan kasih. Menjadi pribadi pengabdi Allah.

Contoh-contoh yang disebutkan tadi selalu tesedia dihadapan kita setiap saat. Melakukan hal-hal yang kecil untuk menunjukan bahwa kita adalah pengabdi Allah dan Bunda Maria.

Credit Picture : Internal Legio Maria Porta Caeli

Mengakhiri renungan, diceritakan 1 hal kisah mengenai salah pilih yang menghancurkan dan bisa terjadi kepada siapapun juga.

Bila kita pergi ke Candi Mendut didaerah Magelang Jawa Tengah, terdapat batu relief gambar burung yang berkepala 2. Dibalik batu relief burung berkepala 2 terdapat sebuah cerita.

Suatu hari ada makhuk aneh burung berkepala 2. Mereka mencari makan bersama-sama. Setiap hari burung yang berkepala diatas memakan makanan yang enak. Sementara kepala yang dibawah mendapatkan makanan sisa. Hingga waktu yang begitu lama kepala yang dibawah ini merasa kesal.

 Ketika mereka mencari makan, kepala yang dibawah berkata demikian :

“Kawan, apakah kamu dapat memberi saya makanan yang enak dengan tidak memakannya sendiri?”

Kepala yang diatas menjawab demikan :

“Kita ini kan 1 tubuh, jadi apa yang saya makan ini juga untuk mu.”

Berulang kali kepala yang dibawah mengatakan hal yang sama dan berulang kali pula kepala yang diatas memberi jawaban yang sama. Akhirnya, kepala yang dibawah marah. Kepala yang dibawah sengaja memakan racun dan berakhirlah riwayat burung berkepala 2 itu.

Cerita tersebut memberikan permenungan agar kita tidak memilih yang salah. Maka semboyan semakin mengasihi, semakin peduli, semakin bersaksi menjadi pengarah kita untuk memilih jalan yang baik dan benar.  

Semoga permenungan diatas dan berkat teladan Bunda Maria membawa kita kepada jalan untuk selalu memilih yang baik dan benar. Jalan yang tidak berdasar kepada pertimbangan-pertimbangan kita sendiri dengan mendengarkan suara Tuhan.

Bila kita setia kepada hal-hal yang kecil maka kita bersama-sama akan bertumbuh sebagai pribadi yang semakin bermartabat yang artinya menjadi pribadi yang semakin mengasihi, semakin peduli, semakin besaksi.

Proficiat 101 Tahun Legio Maria. Ave Maria. Maria Ave.

Credit Picture : Internal Legio Maria Porta Caeli

Recommended Articles