Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai. -Bunda Teresa
Magelang, 29 October 2020 14.20 PM (Perhentian 5)
Siang itu selepas kunjungan dari Gua Maria Pereng, saya dan partner kembali menyusuri jalan sembari menikmati udara dingin nya Kopeng. Kopeng adalah suatu desa di kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Desa ini berada di lereng Gunung Merbabu. Karena berada di lereng gunung, sehingga desa Kopeng memiliki hawa yang sejuk dan dingin.
Perjalanan siang itu membawa kami menuju ke Taman Doa Maria Ratuning di Magelang. Tempat ini saya temukan melalui mesin pencarian Google karena jaraknya yang dekat dan searah dengan Gua Maria Sedangsono. Kami berencana untuk ke Sendangsono sebagai perhentian terakhir di hari itu.
Disepanjang jalan kenangan, (eh maksud saya disepanjang jalan kopeng) saya melihat banyak hasil bumi dan bibit-bibit tanaman yang dijual. Terlintas dalam pikiran untuk dapat mampir sejenak membeli beberapa hasil bumi dan bibit-bibit tanaman sebagai buah tangan untuk kedua orang tua saya. Namun saat melihat waktu dan mengingat masih ada 2 perhentian lagi di hari itu, maka segala keinginan saya urungkan.

Awal perjalanan kami terlihat cukup santai. Tidak seperti hari sebelumnya saat kami berkunjung ke 3 Gua Maria Segitiga (Gua Maria Kerep Ambarawa, Gua Maria Kendalisodo, Gua Maria Rosa Mystica), sangat memicu adrenalin. Untuk menghilangkan rasa tegang, akhirnya sepanjang jalan kami memutar musik sambil bernyanyi. Dengan musik hura-hura nan galau, kami mengikuti kemana Google Map mengarahkan.
Baru saja melalui setengah perjalanan, kami mulai dihadapi hal-hal yang mencemaskan. Dari kendala hilang sinyal, bingung memilih jalan, kelewatan, sampai diarahkan melalui jalan-jalan kecil membuat hati mulai tidak tenang. Ditambah komentar partner saya yang menyinggung cerita “KKN Desa Penari”. Kan horor dihutan-hutan cerita hal mistis. Karena musik tidak lagi membantu menghilangkan kecemasan, saya pun akhirnya mengecilkan suara sembari berseru : Ya Tuhan, tolong kami!!!
Tidak perlu waktu lama, para malaikat Allah tiba-tiba turun membantu kami untuk melalui semua itu. Akhirnya kami tiba juga di Taman Doa Maria Ratuning. Ciee yang sudah mulai akrab sama para malaikat hehe.
Karena kami kehabisan lilin, kami membeli lilin terlebih dahulu disekitar Gereja sebelum menuju area taman doa. Ditaman doa selain terdapat patung Maria Ratuning yang terbuka ada pula Gua Maria yang lebih kecil yang tempatnya lebih tertutup. Karena melihat kondisi cuaca saat itu yang terlihat mulai mendung, kami memilih berdoa di Gua Maria tertutup yang lebih kecil.

Taman Doa Maria Ratuning atau biasa disebut Taman Doa Maria Gantang memiliki nama lengkap yang cukup panjang yaitu Taman Doa Maria Ratuning Katentreman Lan Karaharjan (Ratu Damai dan Kebahagiaan).
Taman Doa Ratuning berada di Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Lokasi Taman Doa Maria ini tepat berada di belakang Gereja Santo Fransiskus Xaverius Gantang yang masuk kedalam wilayah Paroki Santo Kristoforus Banyutemumpang.

Saat memasukin area taman doa, kita akan disambut patung Maria Ratuning Katentremen Lan Karaharjan yang sangat besar. Ada yang unik dari patung ini. Tidak seperti patung Maria pada umumnya, patung ini memiliki ciri khas yang sangat lokal. Dengan pakaian seperti kebaya dan berkulit sawo matang terlihat patung Maria seperti paras wanita jawa.
Dibawah kakinya juga tidak nampak terlihat Maria menginjak kepala ular seperti pada umumnya melainkan kepala Naga. Ternyata terdapat makna filosofis dari para seniman yang memahat patung Maria Ratuning Katentremen Lan Karaharjan. Dewasa ini kejahatan manusia sudah tidak lagi sebesar ular yang menggoda manusia pertama yang jatuh dalam dosa, tetapi ular itu kini sudah menjadi naga besar yang jahat.

Setiap butiran rosario saya daraskan dengan rasa penuh syukur. Teringat kembali banyak sekali pertolongan, rahmat dan kasih serta penyertaan Tuhan dalam hidup saya. Selalu saja ada kemudahan dan bantuan yang Tuhan kirimkan dalam menjalani setiap proses peziarahan. Seketika ada rasa tenang yang mendalam diakhir darasan Rosario dan Novena saya.
Makna dari Maria Ratuning Katentremen Ian Karaharjan ini sungguh mendalam, bahkan untuk saya yang baru pertama kali berkunjung. Seperti ada magnet yang membawa kita menuju ke suasana yang penuh damai.
Seperti sebuah jelmaan naga, dewasa ini banyak hal yang dunia tawarkan untuk memberikan suasana damai dan sejahtera versi Naga. Siapa sih yang tidak pernah tertarik dengan damai sejahtera versi Naga? Sebagian banyak dari kita pasti tertarik. Kekayaan, martabat, kecantikan, popularitas, pesta pora dan lain sebagainya. Buat kita yang pernah atau bahkan sedang menikmati itu semua, tentu saja tahu bagaimana rasanya damai versi Naga.
Apakah saya pernah merasakan damai dan sejahtera versi sang Naga? Jawaban : Tentu saja pernah. Lalu apa yang saya rasakan? Jawaban : Sama seperti awal perjalan saya menuju Taman Doa ini. Bernyanyi bergembira demi menghilangkan kecemasan namun sirna secara tiba-tiba hingga saya harus berteriak : Ya Tuhan, tolong saya!!!
Hari ini (22 November 2020) disaat saya menulis perhentian saya yang ke-5 adalah tepat sebagai Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Yesus yang tidak dalam kemegahan, kebesaran, kemuliaan menurut ukuran raja-raja di dunia ini justru hadir sebagai seorang Gembala.
Yesus sebagai Gembala akan mencari domba-domba-Nya dan akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Yesus sendiri akan yang menggembalakan domba-domba-Nya dan membiarkan mereka berbaring dengan aman dalam damai dan sejahtera.

Sebagain dari kita pernah menjadi seorang domba yang hilang. Yesus yang hadir sebagai Gembala tidak akan pernah berhenti untuk mencari kita. Namun dengan iman yang diawali dari sebuah pertobatan akan semakin membantu kita untuk lebih dekat dengan-Nya.
Mengutip dari pesan pastoral Maria Ratuning Katentremen Lan Karaharjan, jika kita ingin mengalami suasana damai dan sejahtera, maka kita memohon kepada Tuhan dengan mendasarkan iman kepada Tritunggal Mahakudus, bersama Bunda Maria doa-doa kita sampai kepada Yesus Putranya. Selalu berpegang teguh melaksanakan sepuluh perintah Tuhan dengan landasan kasih maka sukacita, damai sejahtera Tuhan limpahkan kepada kita. (V. Suparman, Pr – Pastor Paroki St. Kristoforus Banyutemumpang
Bila saat ini saya dan anda tersesat. Cobalah berhenti sejenak. Berteriaklah! Tuhan sendirilah yang akan menemukan kita. Dengan iman, kita semua sudah memperoleh kedamaian dalam keselamatan 🙂
15.30 PM
“Gua Maria Sendangsono, kemungkinan akan tutup saat anda akan tiba ditujuan” (Google Map)
“Hahaha. Oh My God. Reschedule! Hallo suster, On The Way Boro ya.”
