Tuhan membiarkan saya untuk merasakan kegelisahan, supaya saya tahu bahwa Tuhan adalah segalanya untuk saya.
Jumat, 04 Maret 2022, 07.00 AM
Tepat 20 hari sudah sejak saya terkonfirmasi Positif Covid -19. Mengakhiri isolasi pada hari ke-15 dan dapat kembali kepada komunitas.
Gejala awal sudah saya rasakan 3 hari sebelum terkonfirmasi dengan tenggorokan sedikit panas dan sakit. Melihat hasil tes antigen yang selalu negatif selama 3 hari berturut-turut, dan memiliki riwayat beberapa faktor alergi, membuat saya mengabaikan tanda-tanda yang sudah ada.
Rasa sakit di beberapa persendian tubuh menjadi puncak pemicu untuk saya melakukan tes PCR. Hingga pada akhirnya kesakitan itu harus menghampiri saya.
Dengan kuat dan siap hati saya menerima hasil yang ada. Saat itu saya bertekad bahwa saya akan melalui semua ini dalam diam dan kesendirian. Menjaga segala sesuatunya dengan tidak membuat kegaduhan dan kekhawatiran bagi banyak pihak disekitar saya.
Mungkin apa yang saya pikirkan tidaklah sejalan dengan kenyataan. Sebagai tanggung jawab moral terhadap beberapa pekerjaan dan komunitas, akhirnya mengharuskan saya memberi kabar kepada beberapa pihak.
Sangat tidak lucu bukan, hanya karena ingin dalam diam dan sendiri saya mungkin akan menjadi headline berita sebagai salah satu orang hilang. (Dark Joke)
Perjuangan baru saja dimulai. Tidak hanya mengalami sakit tenggorokan, sekujur badan merasakan panas dan seperti di tusuk. Flu dan batuk yang berat membuat saya juga mengalami kendala pernapasan.
Kesulitan tidur pada 4 hari pertama membuat saya sedikit mengutuk mereka yang mengatakan bahwa varian kali ini hanya menimbulkan gejala ringan.
GEJALA RINGAN MACAM APA INI?
Bahkan pada 1 malam, dengan tangan kiri menggengam Nebulizer dan tangan kanan terus mendaraskan Rosario, saya melewati malam itu dengan sebuah pikiran :
SAYA AKAN MATI MALAM INI!!
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.
Kutuk saya tentu saja tidak menjadi berkat, dan Tuhan sepertinya tidak rela membiarkan saya mati begitu saja dengan cara yang bukan jalan-Nya.
Berada pada ujung garis kehidupan membuat saya teringat kembali akan ungkapan dari seorang Bunda Hendrika Mayora :
Tuhan membiarkan saya menangis,
Tuhan membiarkan saya untuk sakit,
Tuhan membiarkan saya untuk merasakan kegelisahan,
supaya saya tahu bahwa Tuhan adalah segalanya untuk saya.
Kalau saya tidak merasa sedih, bagaimana saya tahu Tuhan itu penghibur?
Kalau saya tidak sakit dan menangis, bagaimana saya tahu Tuhan itu penolong?
Saya percaya, selalu ada orang-orang baik yang dikirim Tuhan tepat pada waktunya untuk datang membantu. Karena Tuhan tahu kepada siapa Dia harus menggerakan hati.
Rasa syukur dan terima kasih tiada tara saya ucapkan kepada semua orang baik yang tergerak hatinya. Terima kasih sudah ikut berjuang bersama saya dengan memberikan dukungan materil dan non materil selama menjalani proses kesembuhan. Tentu saja itu semua bukan karena kuat dan hebat saya. Namun karena berkat kasih karunia Tuhan.
Peralatan Nebulizer, Inhaller, Tensimeter. Obat-obatan, Makanan, Minuman, Buah-buahan, Vitamin, Susu dan lain sebagainya terus menerus berdatangan tiada henti setiap harinya. Doa, semangat, cinta dan perhatian yang selalu hadir mengalir dalam setiap perjuangan.
Terima Kasih telah menjadi pemilik hati dan jiwa yang sungguh luar biasa.
Banyak yang bilang saya adalah orang yang beruntung. Banyak orang yang mencintai saya.
Namun kali ini saya ingin katakan TIDAK.
No, I’m Not LUCKY, But I’m BLESSED.
Dan saya meyakini akan selalu ada berkat bagi mereka yang mengandalkan Tuhan dalam setiap hidupnya.
Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa cerita ini saya bagikan bukan untuk memberitahu kepada anda semua bahwa saya pernah merasakan rasa sakit luar biasa dari sebuah pandemi.
Namun saya ingin membagikan kepada anda akan sebuah kasih dan bagaimana rasanya diberkati dan menerima sebuah kebaikan.
Percayalah bahwa berkat itu selalu ada setiap saat bagi anda dan saya.
Terimalah berat dan jadilah berkat.
Tetap sehat, tetap semangat dan selalu diberkati.

Tuhan itu adalah adil. Dia memberikan kita pilihan, kutuk atau berkat. Ini bukan masalah apakah seseorang harus “berada di sepatu orang lain agar paham” tapi ini adalah masalah keselamatan atau kematian manusia di dalam bumi dan di kehidupan yang akan datang. Baca lebih lanjut, gratis kok: https://id.quora.com/Mengapa-mayoritas-orang-suka-melakukan-cherry-picking-terutama-dalam-hal-beragama/answer/Chiyoko