URIP SEJATINE GAWE URUP. (HIDUP SEHARUSNYA MEMBERI KEHIDUPAN YANG BAIK BAGI SEKITARNYA)
Adisucipto, 28 October 2020, 09.00 AM
Sugeng Rawuh. Kembali saya ucapkan rasa syukur setelah tiba di kota istimewa ini dengan selamat dan dengan cuaca yang sangat cerah. Sepanjang perjalanan dari JAKARTA merupakan perjalanan yang cukup mendebarkan. Kondisi cuaca sebagian sedikit berawan dan terbang dengan menggunakan pesawat seri baling-baling. Buat para pembaca yang pernah ke Kalimantan Timur dan pernah terbang dari Balikpapan menuju Bontang pasti tahu rasanya naik pesawat baling-baling ditengah cuaca berawan 😀

Lho kenapa tidak menggunakan pesawat dengan mesin jet? Jadi, saat ini semua penerbangan dengan pesawat besar menuju Jogja sudah dialihkan menuju bandara yang baru yaitu Yogyakarta International Airport. Dan untuk penerbangan dengan jurusan Adisucipto semua yang mendarat menggunakan pesawat tipe baling-baling.

Sebagai informasi buat para pembaca sekalian yang akan berpergian keluar kota menggunakan pesawat dimasa pandemi ini berikut beberapa tips yang dapat dipersiapkan :
- Sebelum membeli tiket, pastikan kondisi kesehatan kita memang sudah sangat sehat.
- Setelah mendapatkan tiket siapkan beberapa berkas seperti : Hasil Rapid Test / PCR yang berlaku 14 hari, eHAC Indonesia yang dapat diinstall di smartphone dan KTP dengan foto paling ciamik ^_^
- Dan yang terakhir cukup siapkan hati agar selalu hati-hati (Haha)
Setelah sampai pada terminal kedatangan dan mengambil bagasi, saya segera menelepon seseorang yang akan menjemput. Seseorang yang nantinya akan menjadi partner ter-istimewa dalam perjalanan menemukan sesuatu yang ter-istimewa.
Saat keluar terminal kedatangan saya memilih sebuah tempat duduk yang berada ditengah untuk meletakan koper-koper. Sembari menunggu datang seorang mas-mas duduk disebelah kursi kosong saya dan mengajak berbicara sambil menawarkan transportasi.
“Mau kemana mba? Diantar saja gimana? Ini menunggu siapa?” (Baca : Logat Jawa)
“Maaf mas, saya sudah ada yang jemput. Ini sedang menunggu.” Dengan sopan, saya tolak secara halus tawaran itu.
Terdiamlah kami duduk berdampingan. Terlihat sorot matanya melihat daftar pesawat yang akan tiba pada layar monitor sambil tetap tersenyum. Saya tahu dalam hatinya masih ada harap. Saya pun mencairkan keheningan sesaat itu dengan bertanya.
“Jogja gimana mas? Kondisi aman?”
“Alhamdulillah mba.” Masih dengan senyumnya yang ramah.
“Alhamdulillah mas. Pariwisata bagaimana?”
“Sudah mulai meningkat tapi ya pelan-pelan mba. Berusaha saja. Alhamdulillah hari ini lumayan ada 7 pesawat yang mendarat.”
“Lho biasanya berapa mas?”
“Cuma 3 mba. Ya disyukuri saja.” Masih dengan tawanya.
“Ga pindah di bandara yang baru mas? Kan ramai tuh?”
“Sama saja mba. Saya malah ga sanggup biaya anggotanya. Disana sebulan bisa 1 juta, kalo disini masih 400 ribu.”
“Monggo mba saya tinggal dulu, nanti diberi tahu saja kepada yang jemput kalau parkirannya sudah pindah di keberangkatan. Kasihan kalo jemput ditempat yang lama, mba nya kejauhan nanti jalannya.”
“O iya mari. Terima kasih banyak untuk informasinya ya mas.”
Mas yang penuh harap itu meninggalkan saya di bangku kosong itu. Dia yang dalam lemah-nya masih menunjukan sisi ISTIMEWA dan sambil berkata dalam hatinya AKU ORA POPO.
Buat mas nya, terima kasih sudah menemani saya menunggu. Terima kasih juga sudah menebar kebaikan dengan memberikan informasi. Dari mas saya belajar akan sebuah harapan yang selalu ada dan kita akan baik-baik saja.

Akhirnya datang juga jemputan saya. Dia yang dari kejauhan sudah siap sambil membawa senjata pembasmi. Bukan pelukan yang saya dapatkan melainkan semprotan alkohol 70% disekujur tubuh. Hahaha coronce oh coronce.
“Gimana mba? Siap? Where we go?”
AMBARAWA!! Gass Poll…
Put… masukkan aja ini
dibuat kategori nya ya
eehehehehe…
rajin nulis ya biar aq rajin baca nya
Thank you buat masukan nya mba ^_^ Sangat menginspirasi sekali. Akan segera dibuat category nya :D. Semoga terberkati dari tulisan-tulisan yang masih jauh dari sempurna ini. Semangat!! God bless you and your family :*