TAMAN DOA RM. J.B. PRENNTHALER S.J.

Yang harus diperjuangkan adalah kebaikan bukan kerumunan. Ada orang yang berjalan sendiri, terasing, tapi tahu betul arahnya dan itu lebih baik. Daripada sekedar melaju bersama angin ribut, hanyut dalam air keruh. -Boy Candra

Boro, 30 October 2020 18.00 PM (Perhentian 9)

Konjuk ing Asma Dalem Hyang Rama, saha Hyang Putra, tuwin Hyang Roh Suci. Amin.” Kalimat ini menutup perayaan Ekaristi pada sore itu. Sebuah kalimat dengan bahasa yang terdengar sangat asing namun masih dapat dimengerti arti dan maksudnya.

Selepas ziarah dari Gua Maria Watu Blencong, saya dan partner mendapatkan kesempatan untuk dapat mengikuti Misa harian (Ibadah harian dalam agama Katolik) dengan bahasa jawa di Gereja St. Theresia Lisieux Boro pada sore harinya. Selain ingin meminta berkat dari Romo untuk air-air ziarah dari 8 Gua Maria yang sudah kami kunjungi sebelumnya, kami juga ingin menyampaikan doa intensi.

Gereja St. Theresia Lisieux Boro. Image via : Fotografi Gereja Katolik di Indonesia

Ini merupakan kali ke-2 saya mengikuti misa dalam bahasa jawa. Walau terkendala bahasa, namun dengan tata cara ibadah yang sama, tidak akan menjadi penghalang bagi saya yang hanya mengerti bahasa jawa seadanya untuk dapat mengikuti Misa harian. Sedikit ketidaknyamanan memang tidak dapat dihindarkan namun saya tetap dapat mengikuti dengan baik.

Teringat kembali diskusi saya dengan Romo dan Suster. Dalam 1 kesempatan saya mempertanyakan tentang beberapa hal terkait fleksibilitas tata Liturgi Ekaristi dalam Gereja Katolik khususnya di masa pandemi ini. Salah satu hal yang kami bahas adalah tentang ciri khas yang membuat Gereja Katolik dapat bertahan hingga ribuan tahun. Sebuah tata Liturgi perayaan Ekaristi yang tidak pernah berubah di belahan dunia mana pun dan dengan bahasa apa pun.

Setelah mengikuti misa dan meminta Romo untuk memberkati air-air ziarah yang kami bawa, kami segera berkunjung ke Taman Doa RM. J.B. Prennthaler S.J. yang terletak di samping sebelah barat Gereja St. Theresia Lisieux Boro. Taman doa ini memang masih berada dalam Komplek Misi Boro. Sempat terdapat ragu untuk mengunjungi makam diwaktu yang sudah menjelang malam. Namun dengan segala niat, kami tetap berkunjung tanpa ada rasa takut.

Makam Romo Prennthaler, SJ

RM. J.B. Prennthaler S.J. merupakan seorang imam Jesuit yang merintis karya misioner di perbukitan Menoreh, Kulon Progo. Desa Boro merupakan tempat awal beliau memulai karyanya.

Mengutip dari Situs Warta Atma Jogja, selama hidupnya, Romo Prennthaler, SJ banyak melayani umat. Beliau mengabdikan diri untuk umatnya di Kalibawang dan sekitarnya. Termasuk mendirikan Gereja St. Theresia Liseux Boro.

Tidak sedikit karya Romo Prennthaler yang menjadi ujung tombak bagi kesejahteraan masyarakat. Kendati hidup dengan latar belakang seorang imam, namun karya di bidang lain tetap beliau perjuangkan demi kesejahteraan umatnya seperti pendidikan, kesehatan, bahkan perekonomian.

Romo Prennthaler meninggal pada 28 April 1946 di usia 61 tahun, dan dimakamkan di tempat beliau berkarya. Berkat donasi dari umat, makam Romo Prennthaler disulap menjadi sebuah taman doa dengan nama Bunda Maria Pelindung Keluarga (BMPK).

Walaupun wujud utama taman doa ini merupakan sebuah makam namun tidak ada kesan angker dan menakutkan didalamnya. Taman doa ini justru menunjukan suasana yang sangat tenang dan damai sehingga bagi siapa saja yang berkunjung kesana dapat dengan khusuk mendaraskan setiap doa-doanya.

Bunda Maria Pelindung Keluarga

Dari sebuah cerita tetang Hidup Mati Prennthaler Bagi Kalibawang, merintis sebuah karya misoner ditengah keterasingan bukanlah hal yang mudah bagi Romo Prennthaler yang merupakan seorang asing dari Eropa. Tidak hanya terkendala dengan perbedaan bahasa namun juga kehidupan sosial budaya yang pasti akan sangat jauh berbeda antara tanah Jawa dengan tanah Eropa.

Bagi Romo Prennthaler melihat sesuatu yang asing dan tidak nyaman bukanlah menjadi sebuah penghalang atau beban. Segala bentuk perbedaan yang ada beliau pandang sebagai sesuatu hal yang menarik dan menantang untuk dapat dihadapi.

Romo JB Prennthaler, SJ. Image Via : Valid News

Romo Prennthaler bahkan pernah mengalami upaya pembunuhan menggunakan kapak kecil. Bagian hidung, bawah telinga, bagian bawah hidung dan bagian klavikula terluka. Darah mengucur namun segera dibawa ke rumah sakit Santo Yusup dengan mendatangkan dokter dari Wates.

Walau ditengah keterasingan, perbedaan bahkan sampai membahayakan nyawa, Romo Prennthaler dengan segala kesungguhan hatinya tetap berjalan kepada arah yang benar dengan merintis sebuah kehidupan yang layak dengan cara-cara kemanusiaan bagi masyarakat sekitar yang saat itu memang mengalami kemiskinan, minim pendidikan dan kesehatan.

Dalam sebuah perjalanan hidup kita pasti sering bertemu dengan hal-hal yang penuh dengan keterasingan. Akan ada perasaan tidak nyaman dan bisa saja menggoyahkan ketegaran hati.

Terlebih pada masa pandemi ini, kita juga dihadapkan kepada situasi yang sangat asing. Semua roda kehidupan seakan berputar 180 derajat. Setiap orang seakan membuat jalan kenyamanan dan “kumpulan angin ribut” nya masing-masing. Pada akhirnya tidak sedikit yang memang hanyut dalam “air keruh“.

Romo Prennthaler adalah sebuah gambaran pribadi yang unik. Berbekalkan senjata KASIH dan perisai IMAN, beliau lebih memilih sebuah jalan yang asing dan tempat yang penuh dengan ketidak nyamanan. Tidak sedikit penghalang yang beliau hadapai yang mungkin dapat membuat beliau mengakhiri segala tujuan baik yang ingin beliau jalankan. Namun dengan “bekal” yang beliau bawa dan menyatukan diri kepada sebuah keterasingan membawa beliau tetap yakin kepada arah dan tujuannya.

Belajar dari sosok seorang Romo Prennthaler, sudah saat nya bagi kita untuk dapat keluar dalam zona nyaman yang selama ini kita miliki. Segala bentuk perbedaan dan perubahan pasti tidak akan menyenangkan hati semua banyak orang. Namun bukan kesenangan hatilah sebagai tujuan akhir kita, melainkan kebaikan dan kebenaran.

Memandang sesuatu yang asing dengan kacamata kebaikan akan meyakinkan kita memasuki sebuah dunia asing yang baru. Bawalah senjata KASIH dan perisai IMAN dan juga penyatuan diri sebagai bekal bagi kita untuk dapat menghadapi beragam dunia baru yang mungkin akan terjadi di waktu-waktu yang akan datang.

19.10 PM

“Mau langsung balik mba?”

“Naik dulu ke rumah. Cari makan gratis. Hahaha”

Recommended Articles