I WALK BY FAITH, NOT BY SIGHT. – The Book Of Eli
Gamping, 31 October 2020 08.40 AM (Perhentian 10)
Hari itu merupakan hari ke-4 saya dan partner menjalankan perjalanan ziarah Gua Maria pada bulan Rosario ditengah pandemi. Mengingat hari itu merupakan hari terakhir di bulan oktober, dan masih tersisa 5 tempat lagi yang akan kami kunjungi guna menggenapi 14 perhentian, maka kami memutuskan untuk mencari Gereja terdekat yang memiliki Taman Doa Gua Maria.
Setelah semalaman kami menyusuri mesin pencarian dan berbagai media sosial terkait Gua Maria yang lokasinya berdekatan dengan Ganjuran atau Sendangsono (Tempat yang akan kami kunjungi di hari itu), maka pilihan pun jatuh kepada Taman Doa Gereja Santa Maria Assumpta Gamping.
Gereja Santa Maria Assumpta Gamping merupakan sebuah Gereja Katolik yang berada di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Saya pernah beberapa kali melewati Gereja tersebut sebagai jalur alternatif saat menuju Desa Boro ketika jalan utama melalui Godean tampak padat merayap.
Didalam area Gereja Santa Maria Assumpta Gamping terdapat sebuah Taman Doa yang cukup unik. Gua Maria dengan bentuk rumah pondok yang merupakan karya dari Romo Martinus Suharyanto, seperti membawa sebuah pandangan menyejukan bahwa tempat yang paling nyaman dan aman adalah kembali kerumah.

Mengutip dari Website Resmi Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, sejarah terbentuknya dan pertumbuhan umat Paroki Gamping sangat erat hubungannya dengan Kramaredja, cucu dari Raden Panewu Djajaanggada, abdi dalem Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat yang bekerja sebagai pejuang Gamping.
Kramaredja pada saat itu sering mengantarkan gamping (benda) ke Muntilan mempunyai kedekatan dengan Romo Frans van Lith SJ (seorang pastor Belanda berjiwa Jawa) yang saat itu sedang mendirikan gedung Kolese Xaverius di Muntilan.
Bendot Djajautama, anak sulung Kramaredja, atas petunjuk ayahnya yang mempunyai kedekatan dengan Romo Frans van Lith SJ mengikuti pendidikan guru. Sewaktu menjadi guru di Indramayu, ia berkenalan dengan Den Mas Djajus, seorang guru yang beragama Katolik berasal dari Solo. Dari situlah ia kemudian mendalami agama Katolik dan dibaptis sekitar tahun 1918.
Kramaredja sendiri dibaptis dengan nama baptis Bartolomeus pada tanggal 10 Nopember 1920 oleh Rm. H. Van Driessche, SJ. Beliaulah yang tercatat menjadi umat pertama di Gamping. Demikianlah umat pertama di Gamping, berkat biji sesawi yang tumbuh dalam Keluarga Kramaredja, iman Kristiani tumbuh pula pada keluarga lain dan menyebar ke desa-desa sekitar Gamping, seperti Banyuraden, Mejing, Onggobayan, Pasekan, dan Gancahan.

Dengan sisa-sisa kekuatan fisik yang semakin berkurang dan ditengah kehangatan cahaya mentari, saya membawa darasan doa kepada sebuah kepasrahan. Ditempat yang nyaman dan aman ini sesungguhnya saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah berkenan membawa saya mampu melalui 9 perhentian ziarah (Novena) hingga saat ini.
Diwaktu yang tidak banyak ini, terdapat tanya dalam hati, bagaimana mungkin diwaktu yang sedikit tersisa ini saya dan partner akan sanggup menyelesaikan 5 perhentian terakhir dengan tempat dan jarak tempuh yang berjauhan? Ah sudahlah! Bila memang terjadi ya terjadilah. (Batin saya sedikit tidak yakin)
Hari ini disaat saya membuat tulisan ini merupakan hari minggu Adven ke-4 di tahun 2020. Dalam bacaan Injil pada hari ini diceritakan bagaimana Sang Perawan Maria menerima “kabar gembira” dari Malaikat Gabriel. Bahwa sesungguhnya Maria akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk 1 :32).
Bagi kita yang hidup dimasa kini, apa yang diterima oleh Sang Perawan Maria memang merupakan sebuah kabar yang sungguh menggembirakan. Namun bagaimana dengan Maria yang pada masa itu menerima kabar perutusan tersebut? Maria tentu saja terkejut saat mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya. Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena Ia belum bersuami?
Hal ini terjadi pula dalam diri saya. Bagaimana mungkin saya yang bukan ahli sastra pemilik nilai seadanya dalam pelajaran sastra seakan diutus sang Ilahi untuk dapat membuat tulisan-tulisan pewartaan dalam website pribadi saya seperti sekarang ini? Pertanyaan yang sama juga terjadi saat saya berada di Taman Doa Gereja Santa Maria Assumpta Gamping dimana saya tidak yakin dan merasa tidak sanggup dapat menyelesaikan 5 perhentian terakhir dalam ziarah rohani saya.
Banyak pertanyaan dalam hati “bagaimana mungkin?” yang sering sekali kita dapatkan. Sesuatu yang tidak mungkin ini tentu saja tidak akan sampai dan terjawab kepada logika kita sebagai manusia.

Melalui peristiwa perutusan Maria ini sesungguhnya kita belajar dari ketaatan dan kerendahan hati Maria. Dengan imanNya yang berkata : “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” membawa kita kepada sebuah keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah karena kuasa Roh Kudus yang menyertai.
Sama halnya dengan Nabi Yeremia yang saat itu masih muda. Ia yang tidak pandai berbicara dan merasa tidak sanggup justru dipanggil untuk mewartakan sabda Allah. Seperti Maria, Allah memberikan penguatan kepada Yeremia muda bahwa ia akan dikaruniai oleh Roh Kudus dan kuasa Roh Kudus yang menyertainya.
Kuasa Roh Kudus turut pula bekareja dalam sejarah perkembangan Gereja Santa Maria Assumpta Gamping. Berkat “biji sesawi” yang tumbuh dalam Keluarga Kramaredja, iman Kristiani tumbuh pula pada keluarga lain dan menyebar ke desa-desa sekitar Gamping
Peristiwa Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel ini mengingatkan saya dan anda kembali untuk tidak pernah meragukan Kuasa Roh Kudus. Karena sebuah pertanyaan “bagaimana mungkin?” itu akan selalu terjawab dengan jawaban “tidak ada yang mustahil bagi Allah.” Ya! Jangan pernah dipikirkan dengan logika. Karena kita akan pusing dibuatnya. 🙂
09.51 AM
“Mau cari sarapan dulu apa lanjut aja?”
“Lanjut mba. Ngemil pepaya aja dimobil.”
“Siap. Laksanakan (Naga diperut lagi demo. Haha)”
