GUA MARIA ROSA MYSTICA

Flow like water…
Hit strongly if hurdles
come along your way…
Stay calm and keep moving
Ahead… -Maitree Tailor

Banyuurip, 28 October 2020 16.50 PM (Perhentian 3)

Gua Maria Sancta Rosa Mystica “MATER DIVINAE GRATIAE” (Gua Maria Rosa Mystica) yang dalam bahasa indonesia adalah salah satu gelar Bunda Maria yaitu Mawar Suci Bunda Allah Terberkati.

Menurut beberapa informasi yang saya dapatkan, Gua Maria Rosa Mystica menjadi tempat ziarah yang bermula dari penampakan Bunda Maria dalam busana putih kekuning-kuningan dengan 3 kuntum mawar berwarna putih, merah dan kuning emas diatas jubahnya. Maka dari itu di Gua Maria ini diletakkan patung Bunda Maria berjubah putih dengan tiga kuntum mawar menghiasi jubah atasnya. Patung serupa juga diletakkan di Sendang Sumber Air Kesembuhan yang dianggap sebagai air kesembuhan karena ada legendanya. (Akan saya ceritakan pada postingan berbeda)

Gua Maria Rosa Mystica. Image via: Nderek Dewi Maria

Tidak pernah terlintas dalam pikiran, kalau saya akan memilih tempat ini menjadi salah satu tempat perhentian perziarahan kami (Me and My Travel Mate). Kembali disaat saya sedang mencari Gua Maria Kerep Ambarawa dengan Google Map, terlihat pula 2 Gua Maria lainnya yang membentuk sebuah segitiga (Kerep Ambarawa, Kendalisodo, dan Rosa Mystica). Luar biasa bukan?

Triangular Maria Cave

Saat menemukan Gua Maria Rosa Mystica, namanya terdengar sangat tidak asing ditelinga saya. Kembali saya ingat dan membuka percakapan saya dengan seorang kawan asal salatiga beberapa bulan lalu yang merekomendasikan beberapa Gua Maria di sekitar Salatiga. Apakah ini adalah Gua Maria yang sama? Ok. Jika benar maka perjalanan saya kali ini akan terasa lebih mudah karena ada kawan yang saya kenal untuk dapat membantu mencapai tempat ini. Dan akhirnya Gua Maria Rosa Mystica pun masuk kedalam daftar pilihan peziarahan kami.

8 hari sebelum keberangkatan, saya mencoba menghubungi kawan saya untuk mencari informasi, namun saya tidak mendapatkan tanggapan apapun juga. Saya pun mencoba “Solutip” dengan mengumpulkan informasi dari sosmed atau pun mesin pencarian google terkait jam operasional selama masa pandemi, dan juga akses untuk menuju kesana.

Sangat disayangkan Gua Maria Rosa Mystica menjadi satu-satunya Gua Maria yang sangat minim informasi. Usaha saya pun berkahir dengan tidak mendapatkan informasi apapun juga. Akhirnya kami (saya dan partner) memutuskan untuk tetap ke Gua Maria ini dengan modal nekat. Mengikuti insting dan tetap menyertakan pertolongan para malaikat Allah (Ciee… Ciee…).

Waktu yang diperlukan dari Gua Maria Kendalisodo menuju Gua Maria Rosa Mystica, sebenarnya hanya memerlukan waktu 20-30 menit. Namun karena saat itu kami diarahkan melalui jalan atas tol dan melalui pedesaan juga hutan yang sebagian tidak beraspal membuat kami sedikit ragu-ragu dalam menjalankan laju kendaraan. Ditambah lagi saat itu sinyal untuk google map kami sempat menghilang saat ditengah hutan (Horor kan ya? Hahaha).

Ditengah keraguan dan ketakutan kami saat melewati hutan, berutung kami bertemu dengan seorang bapak yang sedang mengikat potongan kayu diatas motornya (Semoga bukan penjelmaan hehe). Dengan penuh harapan kami bertanya apakah jalan yang kami lalui ini benar? Bersyukur sang bapak mengiyakan bahwa jalan yang kami lalui ini sudah benar dan kami diminta untuk terus saja mengikuti jalan yang ada.

Setelah mendapatkan kembali sinyal dan sempat terlewat sedikit dari jalan masuk menanjak lalu berbalik arah, akhirnya kami sampai juga di tempat perhentian kami yang ke-3. Saat itu waktu sudah sangat sore, matahari hampir tenggelam dan cuaca juga mendung. Maka kami pun bergegas mempersiapkan perlengkapan berdoa dan menuju ke area pelataran doa.

Persembahan Donasi Pembangunan

Untuk pelataran doanya sendiri terbilang cukup luas. Di beberapa areanya juga masih dalam proses pembangunan dan renovasi. Namun tidak seperti Gua Maria Kerep Ambarawa yang populer, penggunjung Gua Maria Rosa Mystica ini sangat sepi (Mungkin karena pandemi). Saat tiba, kami hanya bertemu dengan pasangan yang sebelumnya kami temui di Gua Maria Kendalisodo dan 1 keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan 1 anak lelaki mereka. Menurut saya justru ditempat yang sepi seperti ini kita akan lebih khusyuk saat berdoa.

Tanpa berlama-lama kami segera menyatu dalam darasan doa kami. Selama kami berdoa hujan turun dengan sangat deras. Cuaca yang dingin ditempat yang sepi semakin membuat saya hanyut dalam setiap darasan doa rosario. Hujan masih sangat deras saat kami selesai berdoa. Karena tidak ingin mengambil resiko menuruni anak tangga dengan guyuran hujan yang deras, maka kami putuskan menunggu hingga hujan sedikit reda. Sembari menunggu dengan perut yang keroncongan (Karena kami tidak makan dari siang) kami pun mencari informasi untuk wisata kuliner di sekitar Kota Salatiga tempat dimana kami akan bermalam nantinya.

Setelah menunggu cukup lama dan tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, maka kami memutuskan untuk mengambil resiko yang ada dan segera turun menuju kendaraan kami dengan sebuah payung yang akan kami pakai berdua. (Ciee… sepayung berdua).

Area Gua Maria Rosa Mystica

Saat akan turun kami mencari Sendang Sumber Air Kesembuhan. Namun ditempat itu kami tidak menemukan adanya sumur atau keran untuk mengambil sumber mata air. Beruntung kami bertemu dengan mas-mas yang mungkin warga sekitar situ dan memberikan informasi ternyata sumber mata air yang kami cari memang tidak berada di area pelataran doa, melainkan berada dibawah jalan besar menuju Gua Maria Rosa Mystica sekitar 3 rumah. Setelah mengucapkan terima kasih kami pun segera turun dengan sepayung berdua. Saat kami turun menuju parkiran, ajaibnya hujan tiba-tiba meringan dan menjadi hujan rintik-rintik. Terima Kasih Tuhan kami boleh menuruni anak tangga dengan tenang 🙂

Segera kami bergegas menuju lokasi. Pelan-pelan kami berhentikan kendaraan tepat di depan rumah seorang warga. Dari dalam rumah terdapat seorang bapak yang sudah sejak tadi memperhatikan kami dan dengan sigap keluar lalu menghampiri kami. Dengan nada yang sangat ramah beliau menyambut kedatangan kami. Langsung saja kami utarakan maksud kami untuk mencari Sumber Air Kesembuhan.

Saat itu kondisi cuaca masih hujan ringan. Mungkin bagi sebagian orang akan sangat sulit untuk mau keluar rumah dengan kondisi cuaca seperti itu. Saya berpikir sang bapak mungkin hanya akan menunjukan arah kemana kami harus pergi. Namun tahukah para pembaca ku sekalian? Sang bapak menggambil payung nya dan turut serta mengantarkan kami secara langsung menuju Sumber Air Kesembuhan.

Bapak Subagyo

“Sudah malam. Dan jalan nya gelap. Kalian berdua wanita semua, mari saya antarkan. “ (Terharu)

Hallo Pak Subagyo, saya tidak tahu apakah bapak akan membaca tulisan saya ini. Namun saya percaya bahwa Tuhan akan menyampaikan rasa syukur saya ini sampai kepada bapak dan keluarga. Tidak akan pernah saya lupakan kebaikan bapak saat itu. Terima kasih karena bapak sudah merelakan waktu bapak ditengah guyuran hujan untuk menemani dan membantu kami mengambil sumber mata air. Terima kasih juga sudah menjadikan kami seperti keluarga dan membukakan pintu rumah bapak kapan pun kami akan kembali ke tempat itu. Kiranya Bapak, Ibu dan juga seluruh keluarga mendapatkan berkat rahmat kasih dari Allah yang mahakuasa. Doa saya untuk bapak sekeluarga selalu sehat. 🙂

Pada akhirnya saya mengetahui mengapa kawan saya saat itu tidak dapat memberikan tanggapannya. Hallo kawan kalau kamu membaca tulisan saya ini, saya berdoa semoga segala sesuatunya akan semakin membaik ya. May God Almighty bless you and all your family. Ave Maria 🙂

Terkadang harapan memang tidak sesuai dengan kenyataan. Yang tadinya saya pikir perjalanan kali ini akan lebih mudah karena akan mendapat bantuan dari seorang kawan, namun ternyata berbalik. Tuhan sepertinya ingin saya perlu merasakan arti ziarah yang sesungguhnya. 🙂 Ziarah dalam arti, bukan memperoleh kemudahan melainkan memperoleh kasih dan penyertaan.

Saya pun kembali merefleksikan. Bagaimana kalau saja waktu itu kawan saya memberikan tanggapan dan dapat membantu saya menemukan Gua Maria Rosa Mystica ini? Bagaimana kalau saja waktu itu saya bisa dengan mudah memperoleh informasi dari sosmed dan mesin pencarian google? Bagaimana kalau saja waktu itu semua perjalanan ini menjadi lancar tanpa hambatan? Saya rasa perjalanan saya ini akan menjadi perjalanan yang BIASA saja karena dapat saya lalui dengan sangat MUDAH.

Bisa jadi saya tidak akan bertemu dengan Bapak pencari kayu saat dihutan. Bisa jadi saya tidak akan bertemu mas-mas yang memberikan informasi. Bisa jadi saya tidak akan bertemu dengan Bapak Subagyo dan Ibu 🙂

Mengutip dari ungkapan seorang transpuan pertama yang menjadi pejabat publik di Indonesia, Hendrika Mayora yang pernah berkata :

“Bersyukurlah, karena dalam kondisi yang terpuruk dan terburuk kita justru dapat menemukan Tuhan. Tuhan membiarkan kita menangis, Tuhan membiarkan kita sakit, Tuhan membiarkan kita untuk merasakan kegelisahan dan kesusahan supaya kita tahu bahwa Dia adalah segalanya untuk kita. Kalau kita tidak bersedih, bagaimana kita tahu bahwa Tuhan itu penghibur? Kalau kita tidak merasakan kesusahan, bagaimana kita tahu bahwa Tuhan itu penolong?”

Dalam sebuah proses kehidupan kita pasti akan mengalami berbagai macam keraguan, kesulitan, kesedihan dan kepahitan. Semua itu Tuhan perkenan terjadi dalam hidup kita agar kita tahu bahwa kasih Tuhan sedang Tuhan nyatakan dalam perjalanan hidup kita. (So Sweet) 😀

So, buat para pembaca yang terkasih yang saat ini sedang mengalami kesulitan, hilang arah, bingung dan mengalami titik terendah dalam hidup. Saya ucapkan SELAMAT! Iya SELAMAT! Tahukah anda, bahwa anda adalah orang “TERBERKATI (GRATIAE)”. Karena Kasih Tuhan sedang bekerja secara nyata dalam kehidupan anda semua 🙂

Terima kasih Tuhan, sudah memilih kami melalui perantaraan Sang “Mawar Suci Bunda Allah Terberkati” menjadi orang yang TERBERKATI untuk mendapatkan kasih penyertaan Tuhan 🙂

Setelah mengambil air dan berpamitan dengan Pak Subagyo, maka kami pun segera menuju penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya untuk kami dapat bermalam. Dengan rasa syukur yang mendalam, kami akhiri perhentian kami yang ke-3 ini, dari 3 Gua Maria, yang berbentuk segiTIGA, di kota salaTIGA. Angka kembar 3333 . Amen.

Tim Keroncongan

19.30 PM

“Mba, pengen indomie aku.”

“Pake bakso anget, anget. Menurut peta, kita cari disekitar Jalan Jendral Sudirman.”

“Yang menghilang mba?”

“Haha, BAKSO!!”

Recommended Articles

5 Comments

  1. Kalau tidak salah Pak Bagyo itu Bapaknya teman saya waktu SMP hehe..

    1. Wah,, salam untuk beliau ya mba apabila bertemu.:) Saya sangat terbantu dan berkesan sekali dengan beliau. 🙂

  2. Salam kenal kak..mohon infonya..apakah bus bisa masuk langsung di area Gua?
    Terima kasih

    1. Salam Kenal Yanti,

      Karena tempat nya yang berada di atas bukit, Bus dapat diparkir di bawah ya. Kita bisa berjalan kaki kurang lebih 100 – 150 meter untuk sampai keatas.
      Motor dan mobil dapat naik. Hanya saja untuk mobil terbatas parkir di pinggiran jalan.

      Semoga membantu. Berkah dalem 🙂

  3. halo ka boleh kah di kontak private untuk bertanya banyak. Saya IRNA. di 0813 1115 4327
    Saya ada request follow di insta. email panorama.aerowisata@gmail.com

Comments are closed.