GUA MARIA WATU BLENCONG

MENGAMPUNI ADALAH KESEMBUHAN UNTUK HATI YANG TERLUKA

Boro, 30 October 2020 14.35 PM (Perhentian 8)

Setelah melewati perjalanan yang penuh dengan tantangan dan kejutan di Gua Maria Lawangsih, saya dan partner sesegera mungkin memacu kendaraan kami menuju Gereja St. Theresia Lisieux Boro.

Siang itu menjadi hal yang langka bagi perjalanan kami. Kami yang biasanya tidak dapat menyentuh hidangan makan siang selama peziarahan, diperkenankan untuk bisa bersantap makan siang bersama dengan ditemani oleh 2 tamu spesial yaitu seorang Romo muda penuh karisma dan Suster kesayangan (Suster Pasifica).

Sebuah tempat nongkrong kekinian yang direkomendasikan oleh Suster yaitu Kopi Ingkar Janji Kulon Progo menjadi pilihan bagi kami untuk bersantap siang. Ditempat ini terdapat hidangan prasmanan. Jenis yang disajikan memang sangat sederhana dan “Desa” sekali. Namun dibalik hidangan sederhana itu membawa saya kepada memori belasan tahun lalu saat masih tinggal di Asrama. Hidangan dengan rasa luar biasa dan tidak kalah dengan hidangan restauran ala-ala anak Mall.

Kopi Ingkar Janji. Image Via : Wisata Info

Sambil menikmati santap siang, kami berbincang santai namun masih dalam konteks formal. Tidak terlalu beku tapi masih perlu sedikit cair. Tidak lupa bagi kami yang juga para penikmat kopi turut serta memesan secangkir kopi sebagai hidangan penutup.

Dari sebuah kopi memang dapat memberikan keajaiban. Secangkir kopi tidak hanya memberikan kehangatan pada tubuh namun juga menambah kehangatan pada suasana. Kami yang pada awal mulanya terkesan formal dan sedikit beku perlahan mencair bersama dengan diskusi seru yang sangat singkat tanpa campuran pergosipan didalamnya.

Menemukan lawan bicara yang aktif dalam percakapan selalu membawa ketertarikan sendiri bagi saya. Romo berjiwa muda yang aktif dalam komunitas lintas agama dan Suster yang juga aktif dalam pelayanan tenaga medis membawa kami kepada sebuah percakapan yang tidak hanya meberikan ilmu baru tapi juga menyajikan banyak hal inspiratif bagi perjalanan sebuah hidup.

Kalau saja saat itu saya tidak ingat harus melanjutkan peziarahan, dan juga Romo yang harus segera bertugas melayani misa pukul 3 sore di salah satu stasi di Paroki Boro, mungkin bercangkir-cangkir kopi akan saya pesan untuk melanjutkan diskusi yang semakin seru.

Langit yang awalnya terang benderang tiba-tiba diguyur hujan deras membawa akhir pada diskusi seru kami. Sembari menembus hujan, Romo dan rekan saya sudah berlari lebih dahulu tanpa menggunakan payung meninggalkan saya dan Suster dibelakang. Saat itu saya sempat terpeleset dan terjatuh di tangga. Saya yang terkesan kuat mengatakan saya baik-baik saja, namun rasa yang sesungguhnya saya rasakan, SAKIT!! Haha

Setelah mengantarkan Romo kembali, kami yang juga ditemani Suster, bersama menuju Gua Maria Watu Blencong. Sebenarnya kami ingin mengikuti misa yang dipimpin oleh Romo, namun karena keterbatasan waktu dan harus mengejar beberapa perhentian lagi, maka kami putuskan untuk tidak ikut misa dan melanjutkan peziarahan kami.

Gua Maria Watu Blencong masih berada di satu wilayah Desa Boro. Lokasinya berada di arah barat dan jaraknya tidaklah jauh dari Rumah Sakit Santo Yusup Boro. Gua Maria Watu Blencong memang tidak sepopuler Gua Maria Sendangsono dan Gua Maria lain yang masih berada di area Kulon Progo. Letaknya terpencil. Areanya juga tidak luas. Sekelilingnya pun masih berupa kebun. Namun Gua Maria ini tetap layak diperjuangkan untuk menjadi salah satu pilihan tempat peziarahan.

Gua Maria Watu Blencong berawal dari sebuah tempat yang menyimpan fenomena alam. Batu yang dinamai “Blencong” ini menyala pada petang hari layaknya sebuah blencong (lampu yang digunakan dalang untuk menerangi layar arena wayang). Dengan diletakannya Patung Bunda Maria ditempat itu akhirnya membawa banyak orang berdatangan ke tempat itu.

Gua Maria Watu Blencong

Berkat bantuan Suster, kami diperkenankan untuk memarkirkan kendaraan kami di rumah salah seorang perangkat desa yang kebetulan sangat dekat dengan Suster. Masih berada ditengah rintik hujan, segera kami menuju Gua Maria Watu Blencong.

Bersama dengan kami, ada pula 1 keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu dan seorang anak yang berasal dari Sleman yang juga ingin berziarah. Suster yang saat itu berkenan memimpin doa Rosario turut pula mengajak keluarga tersebut untuk berdoa Rosario bersama kami.

Dingin nya udara tidak mampu melawan kehangatan hati. Setiap darasan doa menghanyutkan saya dalam sebuah kepasrahan. Kapan lagi ziarah dan doa Rosario bisa dipimpin oleh seorang Suster? Ziarah rasa Retret. Haha. Sungguh membawa saya kedalam proses pemulihan hati.

Setelah berdoa rosario bersama, saya masih melanjutkan beberapa doa pribadi yang ingin saya haturkan. Dibelakang memang samar terdengar partner saya berbincang dengan suster, namun tidak menggangu fokus saya untuk berdoa.

Selepas doa pribadi saya pun bergabung dengan perbincangan mereka yang terlihat serius. Bukan diskusi bukan juga pergosipan. Sebuah percakapan sederhana namun sulit dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu sebuah PENGAMPUNAN.

Image Via : Skip Prichard

Hal pengampunan memang suatu hal yang sangat pelik. Tidak hanya dari kata yang terucap namun hal yang terkait emosional juga turut terbawa. Bagaimana mungkin sudah sakit hati tapi masih harus bisa mengampuni? Bagaimana mungkin pipi yang kiri yang sudah ditampar tapi harus juga memberikan pipi kanan nya untuk turut ditampar?

Suster menjelaskan bahwa secara manusiawi hal mengampuni memang tidak dapat diterima secara logika. Sakit kepala memang bisa sembuh dengan Paracetamol yang dapat dibeli dimana saja. Namun sakit hati hanya dapat disembuhkan oleh pengampunan yang diperoleh dari Rahmat Kasih Karunia Allah.

Mengampuni memang tidak mudah dan membutuhkan proses. Kata-kata pengampunan mungkin saja mudah terucap tapi belum tentu dapat menyembuhkan sampai kepada hati yang terdalam. Sama halnya seperti saya yang jatuh dari tangga sebelumnya. Demi menguatkan diri, saya berucap bahwa saya baik-baik saja. Namun rasa sakit yang saya rasakan tidak dapat hilang begitu saja setelah saya berucap.

Akan banyak hal berat yang menghadang selama proses berlangsung. Tidak mudah dipungkiri luka lama akan selalu terbuka lagi. Namun kita harus tetap membuka hati selebar-lebarnya selama proses. Biarkan Rahmat Kasih Karunia Allah boleh masuk dan turut bekerja didalam hati. Hingga saatnya nanti pengampunan tidak hanya terucap namun juga dapat memberikan kesembuhan hati bagi kita semua.

16.15 PM

“Nanti saya yang minta Romo berkati air ziarah kalian. Kalian ikut misa saja di Gereja jam 5 sore ini, sekalian masukan intensi doa.”

“Siap suster.”

“Mba… misanya bahasa jawa?”

“Haha.. podo aku ya ora ngerti.”

Recommended Articles