GUA MARIA KEREP AMBARAWA

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambilah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi. (Mat 26 :39)

Ambarawa, 28 October 2020, 12.30 PM (Perhentian 1)

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam dari Bandara Adisucipto Yogyakarta, sampai juga kami (Me and My Travel Mate) di Gua Maria Kerep Ambarawa. Untuk sampai ke Gua Maria Kerep ini, kami melewati jalur Jogja – Magelang – Temanggung – Ambarawa.

Bunda Maria Assumpta

Gua Maria Kerep Ambarawa merupakan salah satu Gua Maria yang cukup populer di area Jawa Tengah. Area nya yang sangat luas, dan berdirinya patung Bunda Maria Assumpta yang diklaim sebagai patung Bunda Maria tertinggi di dunia, menjadi salah satu daya tarik Gua Maria Kerep Ambarawa.

Kami tiba di Gua Maria Kerep tepat pukul 12.30 PM. Sebelumnya kami memperkirakan akan tiba ditempat ini pukul 12.00 PM. Namun karena kami mendapat sedikit kecelakaan kecil, jadi jadwal yang sudah kami perkirakan harus mundur 30 Menit.

Saat itu kami mengalami insiden kecil di area Magelang. Secara tidak sengaja, mobil yang kami bawa diserempet oleh motor tanpa plat dan kaca spion oleh 2 anak dibawah umur yang keduanya tidak memiliki SIM ataupun menggunakan helm. Saat menabrak mobil kami, keduanya pun jatuh. Beruntung mereka tidak mengalami luka ataupun hal yang buruk.

Kami pun berhenti dan melihat kondisi 2 anak tersebut. 1 anak terlihat melarikan diri dan meninggalkan 1 teman lainnya. Patner saya terlihat agak sedikit marah. Dia menghampiri anak tersebut dan mengambil kunci motor, agar anak tersebut tidak kabur. Sembari melihat keadaan saya pun melihat waktu pada jam tangan yang terus berjalan. Karena harus mengejar waktu dan tidak ingin menimbulkan keributan, saya pun mencoba menenangkan partner saya dan mengajaknya untuk berbesar hati merelakan atas apa yang terjadi. Saya berpikir bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah, malah mungkin justru akan memperburuk.

Selama saya tinggal di Jakarta, hal serempet menyerempet, baret membaret sudah hal biasa yang saya alami di jalanan Ibu Kota. Jika hal itu terjadi dan saya harus berkelahi dijalanan justru akan memperburuk keadaan. Mungkin saya bisa telat ke kantor atau membuat kemacetan dijalanan yang justru merugikan orang lain. Bahkan bisa saja terjadi apa yang saya alami bisa menjadi viral jika ada orang lain yang merekam kejadian dan menguploadnya di sosial media. Insiden ini sebenarnya hanyalah hal kecil yang seharusnya tidak perlu diperpanjang. Kendaraan baret, cukup masukan ke bengkel, klaim asuransi dan selesai. As Simple As That.

Tapi patut juga diingat bahwa sebagai sesama yang peduli, kami tidak ingin melepaskan anak itu begitu saja tanpa konsekuensi dari anak tersebut. Setidaknya kami ingin memberikan edukasi untuk anak tersebut. Saat kejadian ada seorang juru parkir yang menjadi penengah. Kebetulan juru parkir tersebut merupakan tetangga dari anak tersebut. Kami hanya menitipkan pesan kepada bapak juru parkir agar disampaikan kepada orang tua anak tersebut, supaya lebih bijaksana dalam memberikan izin untuk membawa kendaraan bermotor di jalanan umum. Hal ini juga berlaku bagi orang tua lain yang membaca tulisan saya ini, agar lebih bijaksana dalam memberikan izin untuk anak-anak nya yang masih dibawah umur dalam membawa kendaraan bermotor.

Begitu tiba kami langsung mempersiapkan perlengkapan doa seperti buku, rosario, lilin dan botol untuk dapat mengambil sumber mata air. Tak lupa pula kami membeli rangkaian bunga mawar juga untuk Bunda Maria yang terkasih. Saat mendekati pintu masuk ternyata kami harus menunggu setengah jam lagi karena area sedang di sterilisasai.

Area Pelataran Doa Gua Maria Kerep

Sebagai informasi untuk jam operasional Gua Maria Kerep Ambarawa saat kami berkunjung dalam masa pandemi, hanya dibuka dari pukul 08.00 s/d 16.00. Umat diperkenankan berdoa di area pelataran doa maksimal hanya 1 jam. Saat kami tiba, area pelataran doa sedang dalam proses sterilisasi dari pengunjung sebelumnya. Jadi kami baru diperkenankan untuk masuk pada pukul 13.00. Umat yang akan berdoa akan diberikan gelang sebagai tanda untuk masuk kedalam area pelataran doa. Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, memakai masker dan memperhatikan jarak aman saat memasuki area pelataran doa.

Karena hanya diberikan waktu maksimal 1 jam, maka pergunakanlah waktu tersebut dengan sangat baik. Setelah 1 jam para petugas akan melakukan sweping dan sterilisasi dari pengunjung sebelumnya. Saat keluar gelang penanda akan dirobek dan pengunjung tidak diperkenankan untuk kembali memasuki area doa yang sudah di sterilisasi.

Gelang Penanda Masuk

Terkadang dari kejadian-kejadian yang kita alami sering kita pikir sebagai sebuah musibah. Kecelakaan kecil yang saya alami awalnya saya pikir sebagai penghalang perjalanan. Namun dari kejadian tersebut saya sendiri belajar bahwa Tuhan memperkenankan segala sesuatu terjadi dalam hidup kita semua karena kehedak dan kasihNya yang besar.

Kalau tidak ada kecelakaan itu mungkin kami akan tiba lebih awal dan harus menunggu lebih lama untuk dapat masuk ke area pelataran doa Gua Maria Kerep sambil berpanas-panasan.

Kalau tidak ada kecelakaan itu kami tidak dapat belajar akan artinya kesabaran, kerelaan hati dan pengampunan.

Saya akhiri perhentian pertama ini dengan ucapan syukur. Terima Kasih Tuhan, kami sudah boleh mengalami segala sesuatu yang menjadi kehendak Mu dengan kasih dan penyertaan. Amin.

Mengejar Matahari

14.15 PM

“Mau makan dulu apa lanjut?”

“Lanjut aja mba. Mengejar matahari. Cuss kemana kita?”

KENDALISODO!!! (Google Map Mode On)

Recommended Articles