HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN
Bantul, 31 October 2020 11.20 AM (Perhentian 12)
Saat itu waktu menunjukan hampir jam setengah 12. Dengan perut yang kosong dan sakit pada pungggung, saya dan partner kembali melanjutkan perjalanan menuju arah selatan kota Jogja. Menuju perhentian ke-12 langkah kaki membawa kami menuju Gereja Salib Suci Gunung Sempu yang berlokasi di Jl. Rakai Hino, Kasih, Tamantirto, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gereja Salib Suci masih merupakan bagian dari Paroki Gereja Pugeran. Gereja ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit dari Gereja Pugeran menggunakan kendaraan.
Gereja Salib Suci Gunung Sempu kami pilih karena letaknya yang dekat dengan Gereja Ganjuran dimana akan menjadi tujuan kami berikutnya. Mengutip pada website resmi Gereja Paroki Pugeran, Gereja Salib Suci Gunung Sempu memiliki sejarah pendirian yang cukup unik. Ketika Kompleks Perumahan Proyek Pengembangan Lingkungan Hidup (PPLH) Gunung Sempu mulai dihuni, sebagian besar warga kesulitan mencari air minum. Demi memenuhi kebutuhan tersebut, warga mencari air dari sumur di Dusun Kembaran milik Bapak VY. Suhartono yang merupakan seorang prodiakon di Paroki HKTY Pugeran. Ternyata beberapa warga yang mencari air minum adalah orang-orang Katolik.

Beberapa warga yang mencari air ini memiliki keinginan untuk berdoa bersama diantara mereka. Hal tersebut disambut baik oleh Bapak FX. Mujiono. Dari keinginan itu maka terbentuklah sebuah perkumpulan doa. Lokasi perkumpulan doa sering berpindah-pindah, namun pada akhirnya dipilih sebuah tempat yang paling nyaman dan paling sesuai untuk berdoa yaitu Watu Ceper atau Watu Kumalasa yang sekarang terletak di tengah-tengah lantai gedung Gereja Salib Suci. Perjumpaan dalam kegiatan doa bersama ini ternyata menimbulkan dorongan dalam hati umat untuk mendirikan Gereja di atas Bukit Sempu.

Setibanya di Gereja Salib Suci Gunung Sempu, dari parkiran kami langsung mencari taman doa yang menurut informasi berada paling atas dari area Gereja. Berjuang menaiki beberapa anak tangga dengan setengah tenaga harus kami lewati untuk menuju taman doa. Pada pertengahan perjalanan anak tangga, bangunan Gereja Salib Suci Gunung Sempu telah nampak terlihat. Dengan tipe bangunan berbentuk terbuka seperti pendopo dan tidak ada dinding-dinding yang mengelilingi bangunan, membuat isi dalam Gereja terlihat secara langsung dari kejahuan. Berada diwilayah selatan kota Jogja, lokasi Gereja Salib Suci masih terbilang cukup dingin dan sejuk karena dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang.
Lokasi taman doa berada diatas sebelah utara bangunan utama Gereja. Taman doa Gereja Salib Suci terbilang cukup luas dan rindang. Memasuki area taman doa, kita dapat langsung melihat 3 buah tempat doa yang mengelilingi taman doa. Berada disisi pojok kanan dari pintu masuk taman doa terdapat sebuah Gua Maria. Bersebelahan dengan Gua Maria terlihat Patung Pieata. Terdapat pula Salib Yesus yang sangat besar terlihat di sisi kiri tengah. Kami yang memang saat itu mencari Gua Maria langsung menuju kearah tempat doa Gua Maria.
Pada perhentian ke-12 ini saya merasakan sebuah perjalanan yang sangat berat. Membandingkan medan pendakian dengan Gua Maria Kendalisodo, seharusnya Gereja Salib Suci hanyalah sebuah pendakian yang ringan. Perut kosong dan sakit yang semakin menyerang pada punggung, membuat saya ingin menyerah. Memaksa raga dengan konsentrasi yang sudah semakin berkurang terkadang menimbulkan pikiran-pikiran yang menakutkan. Bersyukur ditengah ketidak berdayaan, saya masih terbantu dengan partner yang menyadari akan kondisi saya. Dia membantu mempersiapkan lilin, mengambilkan kursi, serta mencarikan tempat yang sejuk untuk saya dapat duduk.

Mencari posisi duduk yang nyaman demi mengurangi rasa sakit, saya membuka kembali buku doa yang biasa saya gunakan. Mencoba menenangkan diri, memijat pada area punggung sembari mengatur nafas, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, saya seakan mendapatkan ketenangan dan kekuatan baru. Perlahan rasa sakit sedikit berkurang.
Mendaraskan doa dalam nafas yang sudah mulai teratur, saya mulai masuk dalam keheningan. Dalam keheningan saya pun bertanya dalam hati. Rasa sakit dan derita seperti apa yang Tuhan rasakan saat menghadapi kematian? Apakah rasa sakit yang seperti saya rasakan ini, atau justru rasa takutlah yang jauh lebih besar daripada rasa sakit?
Peristiwa keheningan saat di Gunung Sempu, mengingatkan saya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari belakangan saat saya menulis tulisan ini. Hampir disetiap harinya saya terus menerus mendapatkan berita kematian dari orang-orang. Baik mereka yang saya kenal dekat maupun tidak akan selalu datang menghadirkan nama. Setiap hari pasti ada nama baru yang akan terucap dalam intensi doa pribadi baik dalam Rosario maupun Perayaan Ekaristi harian. Jauh berpikir tidak menutup kemungkinan akan tiba pula saatnya bagi saya yang akan menjadi salah satu nama yang terucap dalam doa itu bagi orang lain.
Membicarakan hal tentang kematian membuat banyak dari kita sangat enggan untuk membahasnya. Kita lebih suka membicarakan hal-hal menarik tentang kehidupan. Bahkan tidak jarang dari kita menolak sebuah kematian dengan dalih berbagai alasan yang kita miliki seakan kita membuat penawaran kepada Sang Pencipta untuk menunda urutan pemulangan.
Lalu apakah kematian itu sendiri memang sesuatu hal yang menakutkan untuk dibahas? Mengutip dari halaman website Katolisitas, terdapat beberapa makna tentang kematian dalam pengajaran Gereja Katolik. Dari beberapa makna pengajaran yang ada, terdapat satu pengajaran yang selalu menjadi pegangan hidup saya. Saya percaya bahwa kematian dapat diartikan sebagai “keikut-sertaan” dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya (KGK 1006). Melalui kematian didunia, kita dipercaya akan bangkit dan dapat memasuki sebuah kehidupan baru yang kekal di Surga.
Mengumpamakan proses perjalanan menuju sebuah tempat, akan ada tempat asal dan tempat tujuan sebagai akhir perjalanan. Dalam perjalanan menuju sebuah tempat biasanya kita akan melewati perbatasan seperti gapura atau pintu masuk selamat datang untuk memasuki area tempat tersebut. Tidak jarang pada masa pendemi ini pasti akan ada proses pengecekan pendatang yang hendak memasuki area sebuah tempat. Apabila kita layak memenuhi persyaratan aturan sebuah daerah, tentu saja kita dapat memasuki tempat tersebut.
Dari perumpamaan diatas saya memaknai bahwa kelahiran merupakan tempat kita berasal. Sedangkan kehidupan dunia merupakan proses perjalanan kita menuju tempat tujuan akhir. Dan kehidupan kekal adalah tujuan akhir kita.

Membahas tentang kehidupan dunia yang menarik bukanlah sesuatu hal yang salah. Sudah selayaknya kita saling membahas tentang perjalanan kehidupan seperti apa yang aman membawa kita menuju tujuan akhir. Tidak hanya memilih transportasi yang aman namun juga persiapan perjalanan yang menyenangkan juga penuh makna.
Namun bukankah akan lebih menarik dan indah apabila menggabungkan rangkaian cerita perjalanan dengan juga meyakini adanya keindahan pada tujuan akhir? Sebuah keindahan yang akan kita temui disana tanpa perlu takut akan persiapan, kendala perjalanan dan pengecekan pada perbatasan tujuan akhir?
Santa Theresia dari Lisieux pernah berkata “Aku tidak mati, aku memasuki kehidupan.” Apabila semua persiapan diri untuk sebuah perjalanan sudah dilakukan dan kita percaya bahwa tempat akhir yang akan kita tuju merupakan sebuah tempat yang indah dan layak diperjuangkan untuk dikunjungi, lalu untuk apa kita harus takut dalam perjalanan apalagi melewati pintu masuk perbatasan?
Darasan doa rosario dan renungan di Gunung Sempu saat itu membawa saya bersimpuh dibawah Salib Yesus. Mengucap syukur dalam hati akan besarnya cinta melalui sebuah pengorbanan. Mempersembahkan diri untuk sebuah perjalanan hidup akan menjadi bagian pengalaman spiritual yang pasti sulit diterima secara logika. Bahwa bukan sebuah kebetulan saya harus melewati rasa sakit diatas Gunung Sempu ini dan berkahir di bawah Salib Yesus.

12.30 PM
Mba, Ganjuran kan buka sampai malam. Gimana kalo kita ke Sendangsono dulu biar selesai hari ini terus malam mingguan di Ganjuran?
Yakin mau dihabiskan hari ini?
Pasti bisa. Cuss gas poll…
Eksekusi! Cari makan dulu ya, laper. Hadew boyok… boyok…
