Sistem rangking itu penghalang. Amat merugikan proses alamiah anak belajar. Rangking itu dari dunia kompetisi, dunia bisnis, dunia politik dan sebetulnya Darwinistik, ada yang juara dan yang lain kalah. Ini frontal 180 derajat melawan pendidikan sejati, yakni solidaritas antar kawan. -Y. B MANGUNWIJAYA
RUMAH KUWERA
Di hari kedua Hari Raya Natal 2020, mentari pagi yang cerah menemani saya dan Ibu menyusuri jalan utama Godean menuju kota Jogja. Hari itu kami melakukan kunjungan ke beberapa Romo (Pastur) dan Suster yang saya kenal di Kota Jogja. Mengikuti arahan Google Map kami berjalan menuju daerah Gejayan sebagai tujuan pertama.
Mendekati titik akhir perjalanan, kami menemukan sebuah gang yang kami yakini sebagai jalan masuk menuju tempat yang akan kami kunjungi. Melihat bentuk gang yang cukup kecil dan merasa tidak yakin dapat dilewati dengan kendaraan besar, maka kami memutuskan untuk memarkirkan kendaraan dipinggir jalan besar dan masuk dengan berjalan kaki.
Diluar ekspektasi, gang yang terlihat sempit dari depan jalan besar, ternyata cukup luas dan dapat dilalui kendaraan besar hingga sampai kedalam. Setelah berjalan kearah barat kurang lebih 100 meter tampak terlihat disebelah kanan sebuah rumah yang cukup unik diantara rumah-rumah yang berada disekelilingnya. Memastikan kembali bentuknya yang terlihat sama dengan gambar yang ada pada mesin pencarian Google, akhirnya sampai juga kami disebuah rumah yang akrab disebut sebagai Rumah Kuwera.
Belum mendapatkan balasan pesan WhatsApp dari Romo yang akan kami kunjungi, saya dan Ibu mencoba masuk dengan harapan akan bertemu beliau secara langsung. Seperti tampilan luarnya yang unik, memasuki area depan rumah juga terbilang cukup unik. Kami dihadapkan dengan banyak pintu yang kami sendiri tidak tahu harus mengetuk pintu yang mana. Seperti ‘pencuri’ kami hanya berjalan bolak balik sembari mengintip apabila terlihat ada seseorang didalam. (Hahaha)

Menyadari kehadiran kami, muncul seseorang pemuda membuka salah satu pintu dari sekian banyak pintu rumah yang ada dan menyapa kami dengan ramah. Menyambut sapaan, saya langsung mengutarakan tujuan bahwa kami ingin bertemu dengan Romo yang saya kenal. Sangat disayangkan, dihari itu kami tidak dapat bertemu karena beliau sedang pulang kampung dan baru akan kembali 2-3 hari kedepan.
Walau tidak dapat bertemu dengan Romo, kami tetap diperkenankan untuk masuk dan duduk. Sambil berbincang dan ditemani dengan pemuda tadi yang bernama Mas Rian Ibu saya melihat kehadiran kolam ikan yang berada dekat dengan ruang tamu. Kebetulan orang tua saya memang sedang mencoba budi daya ikan dirumah. Seketika kami pun tertarik mempelajari struktur dan sirkulasi kolam yang berada disana. Dengan ramah Mas Rian menjelaskan struktur dan beberapa teknik terkait pemeliharaan kolam dan budi daya ikan. Tidak hanya itu, kami juga diajak berkeliling menyusuri Rumah Kuwera dengan segala “Kejutan-nya”. Seperti mini tour, Mas Rian membawa kami menyusuri setiap ruangan sambil menjelaskan dengan sangat detail satu persatu ruang yang kami lalui.
Rumah Kuwera merupakan salah satu dari sekian banyak karya arsitektur unik seorang rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik (orang kecil) yaitu R.D. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Dipl.Ing atau yang akrab disapa sebagai Romo Mangun. Rumah yang dulunya merupakan rumah kediaman beliau kini telah difungsikan menjadi Kantor Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Yayasan Dinamika Edukasi Dasar sendiri merupakan sebuah yayasan yang menaungi sebuah sekolah formal yang didirikan oleh Romo Mangun, yaitu Sekolah Eksperimental Mangunan.
Rumah ini dinamakan Rumah Kuwera karena letaknya yang berada di Gang Kuwera, tepatnya di JL. Gejayan – Affandi Gang Kuwera Mrican, No. 14, Sleman, Santren, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya unik secara tampilan luar dan area depan, ternyata isi dari rumah ini jauh lebih unik. Seperti memasuki sebuah area bermain labirin, kita tidak hanya dibawa kedalam suasana eksploratif namun juga diajak untuk kreatif berpikir dan mencari jawaban makna-makna yang terkandung dalam setiap ruangan, dinding, sudut dan lorong-lorong yang berada didalam Rumah Kuwera.

Seperti bentuk rumah pada umumnya, Rumah Kuwera memiliki Ruang Tamu, Kamar Tidur, Kamar Mandi / Toilet, Dapur dan Ruang Makan. Tidak hanya itu, Rumah Kuwera juga memiliki tambahan ruangan seperti Ruang Doa (Kapel Kecil), Ruang Berkumpul, Ruang Kerja (Kantor), Ruang Rapat, Perpustakaan dan Ruang Bawah Tanah. Setiap bagian antar ruangan banyak dihubungkan oleh tangga-tangga, jembatan, lorong dan dinding-dinding berbahan kayu dan bambu yang dapat dibuka dan digeser. Bagaikan seperti tempat penyamaran, rumah ini memiliki banyak tempat penyimpanan tersembunyi dari bawah tanah sampai dengan langit-langit.
Dengan banyaknya jendela dan angin-angin hampir diseluruh bagian rumah, membuat sirkulasi udara terasa sejuk walau tanpa penggunaan Air Conditioner (AC). Merasa takjub dan heran bahkan kagum karena dikelilingi oleh banyak ruangan, buku-buku dan karya-karya yang luar biasa, saya sampai tidak dapat menghitung berapa jumlah ruangan, tangga, buku dan karya keseluruhan yang ada. Bahkan ada sebuah tempat yang saya pikir sebagai rak buku ternyata adalah sebuah tangga yang menghubungkan ruang tersembunyi. (Hati-hati tersesat Hahaha)

Walaupun sebagian besar rumah ini dibangun dengan berbahan dasar kayu dan bambu (ada pula batu-batu), jangan pernah meragukan kekuatan pondasi nya. Saya yang dengan ukuran kulkas 2 pintu ini sempat ragu melewati sebuah jembatan bambu. Namun ternyata saya berhasil melewati jembatan dengan aman (Hahaha).
Melewati salah satu sudut ruangan, terdapat hal menarik yang membuat saya bertanya-tanya sebagai seseorang awam yang bukan ahli arsitektur maupun pembangunan. Saat itu Mas Rian menjelaskan bahwa yang terlihat seperti balok kayu untuk menompang bukanlah sebuah satuan balok kayu utuh, melainkan susunan beberapa papan-papan yang disatukan sehingga menyerupai balok kayu. Alih-alih langsung menggunakan sebuah balok kayu, mengapa harus susah-susah menyusun dan menyatukan papan-papan menjadi satu kesatuan? Ah.. mungkin ini salah satu teknik yang ada didalam ilmu arsitektur yang tidak saya mengerti. Pikir saya saat itu.
Setelah hampir 1,5 jam kami diajak berkeliling oleh Mas Rian, saya dan Ibu berpamitan untuk pulang. Tidak lupa saya meminta bantuan Mas Rian untuk dapat menyampaikan pesan agar saya dapat bertemu dengan Romo setelah beliau kembali ke Rumah Kuwera dan sebelum saya kembali ke Jakarta.
SEKOLAH EKSPERIMENTAL MANGUNAN
3 hari berselang setelah mendapatkan pesan dari Mas Rian bahwa Romo telah kembali dan dapat dikunjungi, saya dan Ibu kembali berkunjung ke Rumah Kuwera. Sudah hafal dengan medan tempur, maka kali ini kami masuk kedalam gang tidak lagi dengan berjalan kaki. Kami juga tidak bingung memilih pintu dan mengintip seperti ‘pencuri’. Sudah pasti kali ini kami dapat bertemu dengan Romo. (Hahaha)
Tidak lagi disambut dengan Mas Rian melainkan seorang Suster yang sama ramahnya, kami dipersilahkan untuk menunggu Romo di Ruang Tamu karena beliau sedang menerima telepon. Tidak berselang lama akhirnya kami bertemu dengan Romo Edy Wiyanto, Pr.
Keluarga saya mengenal Romo Edy dimasa 16 tahun lalu ketika kami masih tinggal di Kalimantan Timur. Saat itu beliau yang baru saja ditabiskan diundang sebagai Romo Tamu bersama dengan 1 Romo yang lainnya untuk melayani umat di Paroki kami. Beliau dengan perhatiannya dalam hal kepemudaan, pernah memberikan seminar kecil kepada kami PAPIAL (Putra Putri Altar) dan KOMKA (Komunitas Orang Muda Katolik) di Kalimantan Timur. Perhatian beliau terkait hal kepemudaan ternyata masih sangat melekat. Terlihat saat ini beliau berkarya sebagai Kepala Kantor Yayasan Dinamika Edukasi Dasar atau Sekolah Eksperimental Mangunan yang didirikan oleh Romo Mangun.
Walau sudah belasan tahun berlalu, ingatan beliau akan tempat, kejadian dan nama-nama orang yang pernah terjadi sebelumnya sungguh luar biasa. Beliau dapat menceritakan semuanya dengan sangat detail seakan kejadian tersebut baru saja terjadi. Mengetahui beliau kembali bertugas di Jogja, membuat saya yang hanya sering menyapa melalui pesan singkat selama belasan tahun akhirnya antusias ingin bertemu beliau kembali dalam tatap muka.
Dalam kesempatan itu pula Romo Edy bercerita mengenai project yang saat ini sedang beliau dan tim jalankan dalam tugas. Melanjutkan dan mengembangkan karya Romo Mangun dalam hal pendidikan menjadi prioritas tugas beliau saat ini. Tidak hanya sekedar menempati posisi sebagai seorang Kepala Kantor Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, Romo Edy juga memperkenalkan secara lebih luas tentang Sekolah Eksperimental Mangunan dengan karakteristik pendidikannya yang Out Of The Box.
Sekolah Eksperimental Mangunan didirikan oleh Romo Mangun dengan membawa ide pendidikan yang bebas dan merdeka. Ide pendidikan yang telah melewati tahap penelitian serta uji coba ini ingin membentuk sebuah karakter manusia menjadi lebih humanis. Bagi anda yang pernah menonton film India yang diperankan oleh aktor Aamir Khan berjudul “3 Idiots“, anda akan menyadari bahwa ide pendidikan seperti inilah yang sangat dibutuhkan anak-anak dan mulai ditanamkan dari usia dini untuk mengembangkan karakter yang ada pada diri mereka.
Sekolah Eksperimental Mangunan memiliki 3 tingkatan terdiri dari TK, SD dan SMP. Sebelumnya lokasi bangunan dari ketiga tingkatan ini berada pada daerah dan komplek yang berbeda. Namun akhirnya bangunan direlokasi secara bertahap dan berada pada satu kompleks yang sama di Dusun Cupuwatu, Kelurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta menjadi kompleks Sekolah Eksperimental Mangunan. Proses relokasi dan pembangunannya pun masih terus berlangsung hingga saat ini.

Membawa ide pendidikan yang bebas dan merdeka, Romo Mangun ingin menciptakan sebuah ruang belajar yang tidak hanya sekedar berisi seragam, bangku, meja, buku dan papan tulis. Beliau ingin menghadirkan sebuah ruang belajar yang humanis, eksploratif, kreatif, kritis, integral, dan komunikatif.
Romo Mangun memiliki pandangan bahwa manusia adalah makhluk dengan karakter berbeda yang memiliki akal budi. Manusia dapat memilih dan menentukan pilihannya secara bebas dan merdeka. Dengan menempatkan manusia pada lingkungan yang baik, maka dapat terbentuklah sebuah karakter yang baik pula. Dalam prosesnya untuk membentuk sebuah karakter yang baik harus melewati sebuah tahapan dasar dimana lingkungan pendidikan sekolah dasar menjadi salah satu awal permulaan manusia dapat membentuk karakternya. Dari pandangan itulah yang mendorong Romo Mangun membangun Sekolah Eksperimental dengan tujuan mengembangkan 7 Modal Dasar Anak yaitu : KARAKTER, BAHASA, ORIENTASI DIRI, LOGIKA KUANTITATIF, PIRANTI, KERJASAMA dan OLAHRAGA.
Fokus pada pengembangan 7 modal dasar, anak akan diarahkan untuk mengembangkan karakter yang ada dan dapat menentukan pilihan sesuai pribadi anak. Selain pengembangan 7 Modal Dasar Anak, Sekolah Eksperimental Mangunan juga memberi dukungan dalam membangun sikap kreatif dan kritis anak dengan memberikan 5 tambahan pelajaran yaitu : KOTAK PERTANYAAN, MUSIK, MATEMATIKA PLUSPUNT, MEMBACA BUKU BAGUS, dan KOMUNIKASI IMAN.
Seperti melawan arus, pelajaran KOTAK PERTANYAAN ingin mengubah sebuah pandangan masyarakat umum bahwa mereka yang bertanya adalah orang yang kurang cerdas. Dengan menampung banyak pertanyaan anak tentang sesuatu yang belum mereka ketahui dan akan dibahas bersama, akan mengubah pandangan anak dan masyarakat bahwa mereka yang banyak bertanya adalah anak yang CERDAS.
MUSIK dan MATEMATIKA PLUSPLUNT juga mengajak anak untuk mengekspresikan diri dalam suara dan metode berhitung realistik. Hal bermain musik tidaklah selalu harus menggunakan alat musik umum seperti keyboard, gitar atau drum. Dengan membuat suara dari alat-alat yang ada disekitar, dapat pula mendorong kreatifitas anak untuk peka terhadap suara-suara dan dapat membuat suatu susunan nada dari instrumen alam.
Begitu pula dengan matematika yang tidak hanya terpaku pada sebuah hapalan rumus baku. Anak diajak untuk mempelajari matematika dari permasalahan keseharian. Mereka belajar berhitung dari kejadian nyata dan mudah dibayangkan dengan memanfaatkan sesuatu yang berada di lingkungan sekitar.
Sebagai seorang penggemar buku, saya juga tertarik dengan penjelasan pelajaran MEMBACA BUKU BAGUS. Pada awalnya saya berasumsi bukankan kebanyakan buku yang diterbitkan sudah pasti bagus karena melewati tahap editorial? Kembali pada karakteristik ide pendidikan yang Out Of The Box, membaca buku bagus yang dimaksudkan bukan hanya sekedar membaca buku. Anak diajak untuk membaca sebuah buku yang memiliki pesan dan makna serta memberi nilai-nilai hidup didalamnya.

Walau sebagai seorang rohaniwan, Romo Mangun justru memiliki pandangan bahwa sekolah merupakan tempat publik, sedangkan agama adalah ranah privat, relasi pribadi manusia dan Tuhan. Sejalan dengan pandangan Romo Mangun, Sekolah Eksperimental Mangunan tidak memiliki pelajaran agama secara spesifik. Mengusung konsep AKU, ANDA, ALAM dan ALLAH, pelajaran KOMUNIKASI IMAN ditawarkan sebagai media pembelajaran untuk anak menggali nilai-nilai kepercayaan yang ada di setiap agama seperti cinta kasih, saling menyayangi, menghargai, menolong, peduli lingkungan, menghormati, dan sebagainya.
Sangat terlihat bahwa karakteristik ide pendidikan yang dibawa Romo Mangun tidak ingin menempatkan anak sebagai sentral pengembangan saja, melainkan pada sebuah komunitas. Romo Mangun mengajak seluruh elemen tidak hanya anak namun juga guru, orang tua dan lingkungan dimana anak tumbuh dapat menjadi sumber belajar bersama. Filosofi ini seakan menjawab pertanyaan saya mengenai teknik arsitektur Romo Mangun yang alih-alih tidak langsung menggunakan sebuah balok kayu utuh tapi justru memilih menyusun dan menyatukan papan-papan menjadi satu kesatuan sebagai penompang.
Semasa saya masih dalam pendidikan wajib sekolah 9 tahun hingga saat ini, kebanyakan sekolah menghadirkan sebuah sistem pendidikan hanya sebagai formalitas mengatasnamakan “belajar”. Semua anak bersaing hanya untuk meraih nilai bagus, rangking, ijasah dan profesi yang menjanjikan. Realitas guru mengajar, anak belajar, orang tua membayar sangat nyata terlihat. Sekolah hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu. Sekolah seakan lupa menghadirkan dan menempatkan arti belajar yang sesungguhnya.
Ide pendidikan Romo Mangun membawa saya semakin dalam memaknai bahwa setiap modal dasar manusia dengan berbagai macam karakteristik merupakan sumber bibit yang baik adanya untuk membentuk sebuah generasi pengembang bukan penerus. Generasi yang aktif bukan apatis. Generasi solider bukan menjatuhkan. Generasi optimis bukan pesimis. Generasi pemberi solusi bukan menghakimi.
Dibalik penjelasan singkat Romo Edy, masih banyak hal inspiratif yang mungkin dapat saya dengar. Namun karena keterbatasan waktu beliau, saya dan Ibu segera undur diri. Bagai membaca sebuah buku bagus, kunjungan saya kali ini tidak hanya sekedar berkunjung dan reuni. Namun saya mendapatkan pembelajaran, pesan dan makna serta memberi nilai-nilai dalam hidup. Tidak kalah senangnya Ibu saya juga mendapatkan pembelajaran singkatnya mengenai Budi Daya Ikan. (Hahaha)

Intermezo :
“Besok anak ku tak sekolahin disitu bu.”
“Gek Ndang!” (Jawaban yang eksploratif nan kreatif juga kritis)
