TAMAN DOA GEREJA HATI KUDUS TUHAN YESUS PUGERAN

WHEN SOMEONE YOU LOVE BECOMES A MEMORY

Jogja, 31 October 2020 10.00 AM (Perhentian 11)

Perjalanan pagi itu membawa saya kepada sebuah memori belasan tahun lalu. Dimana sebuah tempat yang akan saya tuju, saat ini hanya menjadi sebuah gambaran masa lalu yang hanya dapat dikenang.

Melanjutkan perjalanan ziarah saya dengan partner dari Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Gereja Pugeran menjadi pilihan kami karena lokasinya yang berada di sekitar wilayah Selatan Kota Jogja. (Karena kami akan menyusuri wilayah Selatan)

Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran atau yang lebih sering didengar dengan Gereja Pugeran berada di Jalan Suryaden, Suryodiningratan, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Bila anda berjalan dari arah utara Pojok Beteng Kulon, terus saja lurus menuju arah selatan. Lokasi Gereja kurang lebih sekitar 1 KM dikiri jalan dari Pojok Beteng Kulon.

Pojok Beteng Kulon. Image Via : KratonJogja.id

Mengutip dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Gereja Pugeran merupakan salah satu bangunan yang telah menjadi warisan Cagar Budaya Nasional.

Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran adalah hasil karya arsitek Belanda J. TH van Oyen. Pembangunannya dimulai pada tahun 1933 dan diawasi oleh Pastor A de Kuyper, SJ. Gereja ini didirikan dengan tujuan untuk menampung umat di Yogyakarta bagian selatan dan Bantul utara. Hal ini disebabkan karena pada masa itu di Yogyakarta bagian selatan baru ada satu Gereja Katolik yaitu di Ganjuran.

Cagar Budaya Gereja Pugeran. Image Via : Paroki Pugeran

Selama masa Perang Kemerdekaan 19 Desember 1948 s.d.19 Juni 1949, Gereja Pugeran menjadi tempat pengungsian dan perlindungan bagi penduduk di sekitar Gereja Pugeran. Kompleks gereja tidak hanya digunakan sebagai dapur umum dan pos Palang Merah Indonesia namun juga di bawah masa bakti Romo A. Sandiwan Brata, PR., tempat ini juga difungsikan sebagai penghubung rahasia antara para pejuang gerilyawan perang kemerdekaan Republik Indonesia yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta.

Walau sering pulang ke Jogja, sudah hampir beberapa tahun ini saya tidak mengunjungi atau bahkan melalui Gereja Pugeran. Selama sekian tahun terdapat banyak perubahan yang siginifikan yang tidak saya ketahui. Dengan tidak mengubah bangunan utama Gereja, terdapat renovasi dan perombakan yang cukup besar disekeliling area Gereja. Melihatnya membuat saya pangling kepada wajah baru area Gereja Pugeran.

Gereja Pugeran membawa kenangan yang sangat dalam bagi saya. Lingkungan disekitar Gereja Pugeran sungguh melekat kepada sebagian hidup saya. Lingkungan ini menjadi tempat dimana keluarga besar dari Almarhum Mama saya berasal (tumbuh besar dan tinggal). Lingkungan ini juga menjadi sebagian memori masa kecil saya dihabiskan. Tidak hanya itu, Gereja Pugeran juga menjadi saksi dimana saya menerima Sakramen Baptis.

Gua Maria Gereja Pugeran

Semenjak seluruh garis keluarga inti dari Almarhum Mama saya sudah tidak lagi berada dilingkungan itu (meninggal), saya pun sudah sangat jarang untuk berkunjung ke wilayah ini. Walau sudah hampir tidak pernah, namun jangan ditanya seberapa hafal saya dengan area ini. Dari Pasar Gedongkiwo dengan beragam kulinernya sampai Bakmi Godog legendaris Pojok Beteng Kulon semua sudah saya telusuri. Hehehe

Dihadapan Sang Bunda dengan tampilan yang tampak sederhana, dengan tidak terburu-buru saya dan partner menyelesaikan darasan doa kami.

Sembari berdoa terlintas pula memori-memori masa lalu. Bersama dengan tetesan kecil air mata, tidak lupa saya panjatkan doa untuk jiwa Mama terkasih, Eyang, Pak’de, Tante dan Om yang telah meninggalkan kami menuju peristirahatan yang abadi.

Terkadang kita sering menjumpai pertanyaan atau bahkan kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita harus mendoakan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia?

Dari beberapa sumber yang pernah saya baca dan saya dengar, saya meyakini bahwa mendoakan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia merupakan salah satu bentuk pengamalan kasih bagi mereka yang membutuhkan. Karena tidak ada lagi tindakan nyata yang dapat dilakukan untuk mereka yang telah meninggal dunia, maka berdoa adalah salah satu cara mengenang dan mencintai mereka. Kita yang dipersatukan Allah dalam Persekutuan Orang Kudus tidak akan pernah terputuskan oleh maut.

Tampilan Dalam Gereja Pugeran. Image Via : Paroki Pugeran

Hari itu saya bersyukur dapat mengingat kembali memori indah yang sudah lama tersimpan didalam hati. Saya yang takut untuk membuka kembali lembaran itu karena pasti akan menangis justru semakin dikuatkan dalam langkah peziarahan ini.

Kiranya kita yang masih berziarah di bumi ini selalu mendapatkan kekuatan dan pendampingan dari Yang Maha Kuasa untuk menikmati perjalanan ziarah hidup kita.

Mengingat masih ada 3 perhentian lagi dihari itu, maka kami tidak berlama-lama untuk berada ditempat tersebut. Karena terburu-buru saya sampai tidak mengabadikan beberapa potret wajah baru dari Gereja Pugeran. Sebenarnya saat itu saya masih ingin menyusuri sejenak bangunan baru yang ada, namun karena kami harus mengejar waktu, maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

10.57 AM

“Ini namanya Pasar Dongkelan. Kalo sore ada yang jual lumpia goreng sama es cincau enak.”

“Mampir jajan po mba?”

“Kan sore, bukan pagi. Hahaha (Makin lapar)”

Recommended Articles