Dalam Hati Kudus Yesus semua kekayaan hikmat dan pengetahuan tersembunyi. Dalam Hati Ilahi ada cinta Tuhan yang tidak terbatas untuk semua orang untuk kita masing-masing. – St. Yohanes Paulus II
Bantul, 31 October 2020 17.00 PM (Perhentian 14)
Setelah menyelesaikan kunjungan kami ke Gua Maria Sendangsono dengan segala drama yang terjadi, sore itu saya dan partner akhirnya dapat melepaskan lelah kami dengan duduk tak beralas dipelataran Candi Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Berhasil mengunjungi 5 tempat peziarahan dalam 1 hari membuat kami saling melempar senyum satu sama lain dan berkata “We Made It.“

Sekian lama tidak berkunjung ke Gereja Ganjuran, tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Masih tetap hening, asri serta menghadirkan kesejukan jiwa dan raga. Tidak seperti kunjungan kami di tempat ziarah sebelumnya, kali ini kami terlihat cukup santai menikmati dan tidak mengejar waktu. Waktu itu kami juga tidak langsung mendaraskan Doa Rosario karena pada hari yang sama, komunitas Legio Maria (Jakarta) dimana saya tergabung juga mengadakan acara “Rosario Malam Minggu Bersamamu” secara daring dalam rangka penutupan Bulan Rosario.
Beberapa saat setelah melepas lelah, partner saya mengajak untuk mengisi form doa permohonan, mengambil sumber mata air dan juga membeli minuman yang berada di sebelah barat Candi. Gereja Ganjuran menyediakan media berupa form doa permohonan yang dapat ditulis oleh para peziarah dimana form doa ini akan dibacakan dalam Perayaan Ekaristi sebagai ujub doa pada Misa Harian / Mingguan / Jumat Pertama. Mengingat masih dalam kondisi pandemi para pengunjung tidak diperkenankan untuk naik dan berdoa didalam Candi Hati Kudus Yesus. Setelah mengisi beberapa form doa permohonan, mengambil air dan membeli minuman, kami kembali ke pelataran Candi dan duduk disana menunggu acara “Rosario Malam Minggu Bersamamu” dimulai sambil menikmati hembusan angin sore.

Tepat pukul 18.00 PM acara “Rosario Malam Minggu Bersamamu” dimulai. Berada ditempat yang berbeda dan bersama dengan Romo Reynaldo Antoni, PR; kami yang tergabung dalam Legio Maria Presidium Porta Caeli (Senior) dan Stella Matutina (Junior) terhubung secara daring dan menyatukan hati kami untuk menutup rangkaian Bulan Rosario dengan rasa syukur. Tidak hanya berdoa Rosario bersama, sore menjelang malam itu kami juga mendapatkan renungan dan berkat yang dibawakan oleh Romo Aldo.

Setelah acara berakhir dalam hening saya membawa hati dan menatap sejenak kearah Candi Hati Kudus Yesus. Memori melemparkan saya kembali kepada rangkaian peristiwa pada 3 hari yang lalu. Ketika saya tiba di Jogja, bertemu dengan partner dan memulai petualangan kami. Berbekal niat dan keyakinan melakukan perjalanan dimasa pandemi, semesta sungguh membawa saya menyusuri jalan-jalan, kota-kota dan kejadian-kejadian yang luar biasa. 14 tempat ziarah yang berada di Kota Ambarawa, Salatiga, Magelang dan Jogja menjadi saksi pencurahan rahmat karunia Roh Kudus yang tidak pernah saya bayangkan dan rencanakan sebelumnnya.
Walau saya telah berhasil melalui semua jalan itu, masih ada rasa tidak percaya dalam pikiran saya sebagai manusia. Pikirkan yang membawa saya kepada sebuah pertanyaan seperti Bunda Maria ketika menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Ya. Bagaimana mungkin?
Hari disaat saya menulis tulisan ini, rasa tidak percaya saya saat di Ganjuran mengingatkan kepada bacaan Injil Misa harian dalam rangkaian Oktaf Paskah. “Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.” Seakan selaras dengan apa yang saya pikirkan saat itu, ketidakpercayaan dan kedegilan hati menutup keyakinan akan rahmat kebangkitan iman dalam diri saya.
Melalui pengalaman ziarah ini saya belajar bahwa lompatan iman menjadi sebuah sikap utama yang sangat dibutuhkan untuk melakukan sesuatu ketika kita berada dalam suasana ragu, tidak yakin dan tidak percaya. Melakukan hal-hal yang tidak terlihat, mengambil resiko walau kita tidak tau apa yang akan terjadi di depan sana karena sebuah nilai yang harus diperjuangkan. Dalam melakukan sebuah lompatan iman, kita akan dihadapkan dengan banyak rintangan. Tidak hanya suasana ragu namun kerelaan waktu dan tenaga juga menjadi bagian dalam perjuangan lompatan iman.
Menutup rangkaian peziarahan dan Bulan Rosario saat itu, hati saya dipenuhi dengan Cinta yang sangat besar. Melalui sebuah lompatan iman, semesta dengan caraNya yang ajaib membawa saya menuju Gereja Ganjuran sebagai tempat terakhir yang sebenarnya bukan menjadi bagian dari rencana awal. Semesta seakan berkata kepada saya : “Disinilah kamu akan melihat penampakan Tuhan melalui Hati Kudus Nya. Disinilah kamu akan melihat Cinta yang tidak terbatas. Disinilah kamu akan menerima perutusan. Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

20.30 PM
Mau makan apa mba?
Mie Godog yukk… Butuh kehangatan.
Cuss….
