GUA MARIA SENDANGSONO

Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.

Kulon Progo, 31 October 2020 13.45 PM (Perhentian 13)

Meninggalkan area parkir Gereja Salib Suci Gunung Sempu, semesta seakan memberikan arahan baru untuk kami. Partner saya secara tiba-tiba mengajukan saran untuk mengubah rute perjalanan ziarah kami. Mempertimbangkan kembali perhitungan waktu dan ingin menyelesaikan perjalanan ziarah di hari itu juga, kami yang seharusnya saat itu melanjutkan perjalanan menuju Gereja Ganjuran di wilayah Bantul, akhirnya memutuskan untuk mengubah rute perjalanan menuju Gua Maria Sendangsono yang berada di Kulon Progo. Semua rencana yang tersusun rapi seketika berubah dalam hitungan detik.

Sesungguhnya sempat terdapat ragu dalam hati akan segala kemungkinan. Kami harus dapat mencapai tempat tersebut sebelum pukul 4 sore dimana batas akhir waktu Gua Maria Sendangsono akan ditutup. Memiliki partner dengan sikapnya yang optimis, membawa saya kembali kepada tingkat kepercayaan hati yang tinggi.

Menyusuri jalan Ring Road Selatan menuju jalan Godean, cuaca yang awalnya cerah berubah menjadi gelap sejalan dengan tujuan kami ke arah barat. Rintik hujan mulai turun dan turut mengiringi perjalanan kami siang itu menuju Gua Maria Sendangsono. Dengan kondisi perut yang masih kosong dan demi menambah kekuatan fisik, kami memutuskan untuk berhenti sejenak di salah satu mini market untuk membeli sepotong onigiri dan sekaleng kopi.

Setelah melewati Gua Maria Jatiningsih tampak cuaca kembali cerah. Sambil menikmati onigiri, saya dan partner memecah rasa lelah kami dengan pembicaraan yang penuh tawa canda. Sesekali kami juga menyanyi bersama mengikuti alunan musik dari suara radio. Memasuki perempatan lampu merah tepat di perempatan wilayah Kenteng, terlihat pemandangan menegangkan yang membuat kami berhenti bernyanyi.

Tampak sosok seorang Mbah (Nenek) yang telah tampak susah berjalan menawarkan dagangannya tepat berada di tengah-tengah jalan yang cukup ramai kendaraan. Partner saya yang saat itu sedang menyetir mengurangi laju kendaraan dan berusaha menghindari Mbah tersebut. Beberapa kendaraan juga turut mengikuti untuk menghindari Mbah tersebut.

Mbah Penjual Alen-Alen

Lampu perempatan sudah kembali hijau dan kendaraan mulai bergerak. Mengamati dari dalam mobil, tidak juga terlihat Mbah tersebut akan beranjak dari posisi beliau berdiri ditengah jalan menuju ke pinggir. Mbah seakan takut untuk berpindah atau menyebrang karena ramainya kendaraan yang melintas. Setelah melewati perempatan dan berbelok kearah utara, saya meminta partner saya untuk berhenti dan meminggirkan kendaraan kami. Meminta partner saya untuk tetap berada di mobil, akhirnya saya turun dan menghampiri Mbah yang terlihat dari jauh masih berada di tengah-tengah jalan. Saya gandeng tangan beliau dan mencoba menuntun beliau sembari memberikan tanda kepada kendaraan lain yang melintas agar memberikan jalan bagi kami untuk dapat menyebrang. Saat itu juga saya melihat senyum lega Mbah yang manis. Melihat senyum Mbah dan membawa beliau menuju tempat yang aman membuat saya juga turut lega.

Sambil membantu merapikan dagangan, saya bertanya siapakah nama beliau? Namun karena pendengaran beliau yang sudah berkurang, bukan sebuah nama yang saya dapat, melainkan beliau justru menjawab harga-harga makanan yang beliau dagangkan. (Hahaha). Mengingat waktu yang sudah semakin siang, akhirnya saya membeli 2 bungkus alen-alen dagangan Mbah. Dari harga yang beliau sebutkan seharusnya saya memperoleh kembalian. Namun beliau justru mengatakan bahwa uang yang saya berikan sudah pas. (Hahaha). Saya yang memang tidak bermaksud meminta kembalian hanya dapat tertawa penuh cinta. Melihat Mbah tersebut membuat saya teringat dengan Mbah saya yang ada di rumah.

Seperti enggan meninggalkan beliau disana karena rasa kuatir, saya hanya dapat memohon perlindungan bagi Mbah kepada yang Kuasa. Ketika hendak beranjak Mbah kembali memanggil saya. Beliau memberikan saya sebungkus peyek yang kata beliau sebagai bonus. Saya tersenyum dan menerima pemberian beliau dengan cinta yang semakin dalam. Sehat-sehat ya Mbah. Dalam hati saya berharap beliau tidak lagi ketengah jalan yang dapat membahayakan beliau.

(Sangat disayangkan, ketika saya kembali di Bulan Desember 2020 saya tidak menemukan lagi Mbah yang saya temui ini berada di perempatan Kenteng. Sangat terbuka bagi saya apabila terdapat informasi dari pembaca yang mungkin melewati area tersebut dan melihat Mbah yang berjualan tepat diperempatan lampu merah Kenteng)

Berkat semangat yang optimis, akhirnya kami tiba di Gua Maria Sendangsono tepat sebelum pukul 4 sore. Gua Maria Sedangsono yang berada di wilayah Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta ini merupakan Gua Maria yang sangat populer di kalangan peziarah Gua Maria. Areanya yang luas dan tempatnya yang indah selalu membawa kesan bagi para pengunjungnya untuk selalu kembali. Gua Maria ini juga merupakan salah satu tempat yang wajib saya kunjungi saat saya pulang ke Jogja. Tempat ini seakan selalu memberikan pencerahan dan pengalaman spiritual bagi saya. Tidak hanya ketenangan hati namun dari tempat ini banyak pula doa-doa yang berkenan dihadapan Tuhan yang selalu berubah menjadi berkat bagi hidup saya.

Gerbang Utama Gua Maria Sendangsono

Tidak leluasa seperti sebelum masa pandemi, memasuki area doa Gua Maria Sendangsono harus melewati pos penjagaan dengan menerapkan beberapa protokol kesehatan. Berbeda dari Gua Maria Ambarawa yang menerapkan pembatasan waktu berdoa, di Gua Maria Sendangsono ini masih memberikan kebebasan waktu berdoa bagi para pengunjungnya. Jalur untuk memasuki area doa dibuat menjadi satu arah. Beberapa area juga dibuat garis pembatas sehingga para penggunjung tidak terlalu bebas berkeliling memilih jalan keluar dan masuk. Tidak hanya harus mengisi buku tamu dengan tanda pengenal, pengambilan sumber mata air juga tidak diperbolehkan dari keran karena pengelola telah menyediakan botol-botol yang dapat langsung dibawa oleh pengunjung dengan maximal 2 botol untuk 1 orang. Tempat duduk turut diatur sedemikian rupa sehingga terdapat jarak antara pengunjung satu dengan lainnya.

Setelah menyalakan lilin dan hendak mencari tempat duduk, hujan tiba-tiba turun. Tidak lagi memperhatikan pakaian kami yang mulai basah, perlahan kami membuka payung kecil yang kami bawa. Ditengah guyuran hujan yang semakin deras membawa saya dan partner tetap mendaraskan doa rosario kami masing-masing dengan tenang. Hendak melengkapi peziarahan kami di perhentian ke-13 ini, semesta seakan mendukung. Hujan yang deras seperti menggambarkan perasaan Bunda Maria saat menerima jenazah Yesus didalam pangkuannya. Menangis tanda manusiawi namun ikhlas sebagai tanda setia kepada kehendak Ilahi.

Pengalaman kehilangan akan sesuatu yang berharga dalam hidup sudah pernah saya alami. Dari kehilangan seorang mama (meninggal), kehilangan kawan (penghianatan) sampai kehilangan harta (penipuan dan pencurian). Pada masa-masa itu jangankan harus bersikap setia kepada kehendak Ilahi, saya justru pernah jatuh dalam sebuah kebencian. Tidak hanya membenci Tuhan namun saya juga menjadi seorang yang paling militan dalam hal penolakan untuk percaya kepada Tuhan. Saat itu saya bahkan sampai berpikir bahwa kehancuran hidup yang sedemikian rupa bukankah lebih baik kita buat semakin hancur saja?

Melewati masa-masa ketidak percayaan dan ketidak setiaan itu, hidup yang saya pikir akan semakin hancur justru tidak pernah saya alami satu pun kehancuran. Hidup saya dibuat semakin kuat setiap hari nya dengan banyak hal yang sama sekali tidak saya mengerti dengan akal pikiran manusia. Kebencian perlahan menghilang. Pemberontakan perlahan mundur. Hadirnya pertolongan disetiap kesusahan. Hati yang beku perlahan mencair. Dan disitulah saya mulai belajar apa yang dinamakan KASIH KESETIAAN TUHAN. Seorang Bapa menanti anak-Nya yang hilang untuk kembali pulang.

Bunda Maria sebagai teladan setia orang beriman membawa saya kembali kepada kehendak dan jalan Ilahi. Ketika Yesus menderita, Bunda Maria tetap setia berada di samping-Nya. Hal itu pula yang mengajarkan saya akan arti dari penderitaan hidup yang membawa kita untuk tetap setia kepada kehendak dan jalan Tuhan.

Menjadi setia bukan dari seberapa banyak pengalaman kita jatuh, melainkan dari seberapa besar keikhlasan kita untuk mau memberikan sesuatu yang paling berharga dalam diri kita.

Selesai mendaraskan doa-doa dan masih ditengah rintik hujan, saya dan partner berjalan meninggalkan tempat indah ini. Bersyukur selalu atas segala berkat Tuhan melalui teladan dari Bunda Maria. Penuh harap dalam hati, pada waktu-Nya nanti saya boleh kembali ke tempat ini untuk menjalankan janji dengan berkat sebagai jawaban dari doa dan harapan yang telah saya tinggalkan ditempat ini.

15.00 PM

Malam mingguan di Ganjuran kita mba.

Oh ini malam minggu ya? Gak pernah malam mingguan sampe gak ngerti. Hahaha.

Hahaha. Sami mawon. Nasib suami diluar kota.

Recommended Articles