Menerima kasih dan memberi kasih itu perkara yang satu-tunggal. Tanpa ada yang menerima, orang juga tidak bisa memberi kasih. Maka menerima kasih sekaligus juga memberi kasih, karena memungkinkan orang lain memberi kasih. -YB Mangungwijaya
Pagi itu saya duduk di samping jendela kamar dan menikmati hembusan angin sembari mengoleskan obat salep pada bagian kulit yang terkena alergi. Baru 2 hari berada di rumah tiba-tiba saja saya mendapatkan reaksi alergi yang entah dari mana pemicunya.
Sambil berbicara dengan Mbak yang membantu mengganti seprai dan membersihkan setiap sudut kamar, ibu saya menyatu dalam pembicaraan, datang membawa selimut baru. “Ini selimut dari Bruderan lho!“, begitu ucapnya sembari menempatkan diatas tempat tidur.

Sekilas mata, selimut mungkin tidak tampak mewah seperti bed cover yang sering saya gunakan sebagai selimut. Ukuran yang kecil dan sekilas kurang semarak membuat saya berdiri dan mendekat. Menyentuh dan merasakan setiap serat kain dan mencoba menggunakannya. Kualitas yang bagus, tebal dan hangat, batinku dalam hati.
“Di bruderan banyak selimut begini. Serbet, handuk, macam-macam banyak disana.“, ucap ibu saya.
Jika menyebutkan kata Bruderan mungkin terdengar asing bagi orang-orang non lokal. Namun bagi masyarakat sekitar, penyebutan Bruderan yang ibu saya maksud adalah Panti Asuhan Putra Sancta Maria Boro.
Tempat ini merupakan salah satu bagian dari Komplek Misi Boro. Panti asuhan putra ini dikelola oleh para Bruder FIC (Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis) yang berada dibawah naungan ordo SJ (Serikat Jesus).
Panti asuhan ini tidak hanya merawat anak-anak putra dari usia belia (TK) sampai dewasa (SMA) namun juga mengkaryakan masyarakat sekitar Desa Boro dalam berbagai bidang pekerjaan dan Mbah Kakung saya merupakan salah satu dari banyak masyarakat Boro yang mendapatkan kesempatan berkarya di Bruderan.

Ibu saya memang sering berkunjung kesana. Tidak hanya sekedar mencari serbet dan perlengkapan lainnya tapi juga sering mencari beberapa bibit tanaman atau bunga untuk ditanam di sekitar rumah.
Tempat yang tenang, nyaman dan asri karena letaknya di perbukitan menoreh ini tidak hanya memiliki tempat pembuatan tenun. Di bruderan juga memiliki perkebunan dan peternakan mini seperti kelinci, sapi, kambing dan babi didalamnya.
Tidak hanya selimut, Tenun Boro juga menghasilkan beberapa karya lainnya seperti tas, pakaian, serbet, handuk, celemek, dan lain-lain. Sebagai ukuran produk desa, kualitas boleh diadu dengan produk kota sejenis.

Tempat ini sangat mudah ditemukan ketika melintasi Desa Boro. Lokasinya masih berada pada satu kawasan Peziarahaan Rm. Prennthaler dan juga berada tepat di belakang Gereja Theresia Liseux Boro.

Bagi anda yang tidak terbiasa membawa cash, janganlah ragu untuk memilih banyak barang disana. Sistem transfer antar bank telah tersedia dan mempermudah anda untuk melakukan transaksi.
“Mau kesana ta put? Ibu anter.“
“Yuk bu. Sekalian mau lihat bunga.“
