MUSEUM PENGORBANAN

Jakarta, 01 July 2021

Sudah sangat sering dari kita mendengar banyak kisah diluar sana tentang sebuah pengorbanan. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah kisah nyata inspiratif berbeda yang tidak pernah bosan mengingatkan kita bahwa wujud nyata IMPIAN yang kita ketahui tidak selalu diterima karena usaha kita dan kita memang layak untuk mendapatkannya. Namun IMPIAN dapat pula kita terima dari sebuah PENGORBANAN orang lain.  

Kisah ini terjadi disebuah kompleks hunian yang berisikan anak-anak perempuan dengan rentang umur 3  s/d 17 tahun. Bagi seorang anak, bermain masih menjadi salah satu bagian dari dunia mereka. Sebagai anak perempuan pada umumnya, boneka adalah salah satu mainan yang menjadi kegemaran dan kesukaan mereka.

Mungkin bagi sebagian anak boneka hanya dipandang sebagai alat bermain, penghias ataupun koleksi semata. Namun tidak bagi anak-anak di hunian ini. Bagi mereka boneka dapat menjadi sahabat, teman tidur dan tempat berbagai cerita dalam suka dan duka.   

Adapun seorang Suster yang bertindak sebagai Suster Kepala menjadi penanggung jawab atas hunian tersebut. Suster yang akrab dipanggil sebagai “Mbok’e anak-anak” tidak hanya bertanggung jawab untuk kesejahteraan hidup anak-anak. Beliau turut pula bertanggung jawab atas perawatan hunian dan kebersihannya.

Sebagai seorang Suster Kepala, berkeliling hunian menjadi salah satu tugas Beliau dari sekian banyak tugas yang ada. Memperhatikan seluruh isi dengan sangat baik dari setiap sudut hunian termasuk kamar dan tempat tidur anak-anak. Kamar dan tempat tidur anak-anak terlihat tampak rapi dengan susunan bantal dan selimut yang terlipat dengan sangat baik. Terlihat pula beberapa boneka yang menghiasi tempat tidur anak-anak. 1 anak ada yang memiliki 2 s/d 3 boneka, adapula yang hanya memiliki 1 boneka.

Dalam pandangan Beliau kamar dan tempat tidur anak-anak sudah cukup rapi. Namun ada sesuatu yang perlu dipercantik dan diperbaiki.  Suster Kepala berpikir bahwa Beliau ingin membuat tempat tidur anak-anak terlihat lebih rapi tanpa hadirnya boneka ditempat tidur. Hendak mengubah sesuatu tanpa harus merampas kebahagian anak-anak menjadi PR (Pekerjaan Rumah) Beliau.

Akhirnya dengan sebuah ide cemerlang, Suster Kepala menghadirkan sebuah lemari kosong di salah satu lorong hunian. Dengan lembut dan tanpa paksaan Suster Kepala menyampaikan maksud dan tujuan Beliau kepada anak-anak.

Beliau berkata : “Anak-anak, Suster punya impian. Impian Suster adalah membangun sebuah MUSEUM BONEKA di lemari kosong itu. Tapi sangat disayangkan Suster tidak punya boneka satupun. Adakah dari anak-anak yang mau mewujudkan impian Suster?” 

Gayung bersambut, salah satu dari seorang anak menyahut : “Saya mau menyumbang boneka saya suster”

Sahutan demi sahutan dari anak-anak terus berdatangan menyambut baik demi memenuhi impian membangun sebuah Museum Boneka.

Bagi saya dan anda mengorbankan sesuatu dalam hidup kita untuk mewujudkan impian orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi pengorbanan itu adalah hal yang berhubungan dengan sesuatu yang berharga dan mungkin satu-satunya akan hilang dalam hidup kita. Tidak jarang kita cenderung berbahagia melihat ketidak berhasilan hidup orang lain daripada harus mendukung orang lain untuk maju, berkembang dan berhasil.

Saya teringat akan sebuah kalimat dalam buku “So The Next Generation Will Know” karya Sean McDowell dan J. Warner Wallace, “Giving kids a worldview that brings significance.” (Memberi anak-anak pandangan dunia yang membawa makna). Kalimat itu memperlihatkan wujud nyatanya dengan apa yang dilakukan oleh Suster Kepala. Beliau hendak mengubah sesuatu dengan tidak menghubah kehidupan anak itu sendiri. Dengan bijaksana dan memahami dunia anak-anak, Beliau memberikan pandangan dunia berbeda yang tentu saja membawa makna bagi anak-anak itu sendiri. Sebuah makna untuk mau berkorban demi keberhasilan dan kemajuan bersama.

Dan inilah The Most adorable Museum I’ve ever seen. Museum yang tidak berisikan barang-barang langka ratusan tahun. Museum yang berisikan hati dan jiwa yang sangat langka seumur hidup. Hati dan jiwa yang murni. Hati dan jiwa penuh KASIH yang tidak dijual dengan bebas dimana saja. Hati dan jiwa yang hanya dapat diperoleh dari sebuah PENGORBANAN.

Special Thanks To :

Ucapan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada Suster Christera, OSF. Ditengah waktu padat Beliau masih meluangkan waktu untuk menghibur saya ketika lelah pulang bekerja dengan mengirimkan cerita-cerita inspiratif. Terima kasih pula telah memberikan ijin bagi saya membagikan kisah anak-anak luar biasa dari Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak BRAYAT PINUJI, Boro, Kulon Progo, Yogyakarta dalam website pribadi saya.  Sehat selalu Suster dan Tuhan memberkati.

Museum Pengorbanan

Recommended Articles