GUA MARIA PERENG

The hardest walk is walking alone. But it also makes you the strongest. -Motivational

Kopeng, 29 October 2020 11.30 AM (Perhentian 4)

Setelah pada malam sebelumnya kami (saya dan partner) bermalam di kota Salatiga, sepagi mungkin kami harus segera check out dari tempat penginapan karena harus melanjutkan misi petualangan di hari ke-2.

Partner saya sengaja menyantap 2 piring sarapan demi mempersiapkan fisik untuk sepanjang hari. Dapat saya maklumi karena pada hari sebelumnya kami benar-benar tidak makan dari pagi dan baru dapat menerima makanan dimalam hari. Anggap saja isi full tank karena tidak tahu kapan ada kesempatan kami dapat menemukan tempat pengisian perut haha.

Sarapan Rapelan

Setelah check out dari tempat penginapan, kami tidak langsung menuju ke Gua Maria yang berikutnya. Semalam kami berbincang akan banyak hal sambil menikmati makan malam rapelan siang. Karena ada 1 dan lain hal, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Sendang Banyuurip di Gua Maria Rosa Mystica. Tidak perlu waktu lama, setelah menyelesaikan kegiatan kami di Sendang Banyuurip, kami segera menuju ke tempat perhentian yang ke 4 yaitu Gua Maria Pereng.

Gua Maria Pereng merupakan sebuah Taman Doa Gua Maria yang berada di Dusun Jampelan, Desa Getasan, Semarang, Jawa Tengah. Secara administratif taman doa ini masuk dalam wilayah Stasi Santo Yusuf Getasan, Paroki Santo Paulus Miki Salatiga.

Gua Maria Pereng sendiri dinamakan demikian karena lokasinya yang berada ditanah miring dilereng Gunung Merbabu. Pereng sendiri dalam bahasa jawa artinya Miring.

Akses untuk dapat mencapai ke Gua Maria Pereng bisa terbilang sangat mulus dan mudah karena jalannya yang besar dan sudah beraspal. Sebenarnya letak Gua Maria Pereng dari tempat saya menginap (Hotel Laras Asri Salatiga) hanya berjarak sekitar 11KM dengan jarak tempuh 20 menit. Namun karena saat itu kami berjalan dari Gua Maria Rosa Mystica, maka jarak tempuh yang diperlukan menjadi lebih lama.

Jarak Tempuh Google Map

Gua Maria Pereng ini menjadi salah satu pilihan peziarahan, berkat rekomendasi dari kawan saya juga. Berbeda dengan Gua Maria Rosa Mystica dimana saya tidak menemukan informasi apapun, untuk mendapatkan informasi Gua Maria Pereng ini saya sangat terbantu dengan pemilik akun di Instagram. Sebuah komunitas peziarah Gua Maria dengan menggunakan motor yaitu SAINT MARY RIDERS (@saintmaryriders).

Berawal dari melihat postingan Saint Mary Riders yang berkunjung ke Gua Maria Pereng di masa pandemi, saya mencoba DM dan menanyakan hal-hal terkait jam operasional Gua Maria Pereng selama masa pandemi. Hallo admin Saint Mary Riders, terima kasih sudah memberikan secercah harapan dengan membalas DM saya. Next time boleh ya join ziarah pakai motor 🙂 (Mantan Anak Riders. Asyik.)

Selama perjalanan menuju Gua Maria Pereng, saya dan partner mulai bercerita banyak hal. Maklum saja kami memang dapat saling cerita terbuka karena kami adalah tetangga rasa saudara sedari kecil. Walaupun masih ada beberapa hal juga yang tidak dapat saya ceritakan hehe.

Kedua orang tua kami pun juga bersahabat sejak masih sama-sama berjuang di bumi Kalimantan hingga sekarang. Dulu kami pernah hilang contact saat partner saya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Balikpapan. Namun sekarang kami sudah dapat dipertemukan kembali dan menjadi partner yang sangat luar biasa. 🙂

Dari banyaknya cerita kehidupan, dapat ditarik kesamaan bahwa saat ini kami sedang merasakan suatu hal. Kami sama-sama merasa sedang berjalan dan menanggung beban SEORANG DIRI.

Kami tiba di Gua Maria Pereng sudah cukup siang. Saya dan partner kembali mempersiapkan alat-alat berdoa sebelum masuk ke area pelataraan Doa. Buat para pembaca tidak perlu membawa botol atau tempat air ya, untuk mengambil sumber mata air. Ditempat ini sudah disediakan botol-botol dan dirigen kecil. Dengan tidak membawa botol sendiri anda sudah membantu untuk pembangunan. 🙂

Gusti Ora Sare

Saat memasuki area pelataran doa, saya pun terkagum dengan ukuran Gua Maria yang sangat besar. Selama saya melakukan ziarah, baru kali ini saya melihat ukuran Gua Maria yang sangat besar. (Gua Maria ya bukan patung Bunda Maria hehe). Kami segera mengambil tempat untuk mempersiapkan diri bertemu hati dengan Sang Pemilik Semesta melalui perantaraan Bunda kami terkasih. Saat itu siang hari, namun udaranya cukup sejuk dan dingin.

Setelah selesai mempertemukan hati, kami berjalan berkeliling untuk menikmati area pelataran doa sejenak sembari mencari sumber mata air. Letak sumber mata air di Gua Maria Pereng berada di jalan yang menuju kebawah dari turunan jalan masuk. Sedangkan pelataran doa nya berada disebelah kiri dari jalan turunan masuk. Karena udaranya yang dingin maka sumber mata air di Gua Maria Pereng juga terasa dingin.

Sumber Mata Air

Setelah mengambil air, kami pun bergegas untuk kembali ke kendaraan dan melanjutkan peziarahan kami ketempat berikutnya. Saat masuk tadi kita akan menemui jalan menurun. Namun ketika kembali kita akan menemui jalan menanjak.

Jalan Masuk

Siang itu rasa syukur tidak pernah berhenti terucap. Pertemuan saya dengan Sang Bunda di perhentian ke-4 ini sangat melegakan dan menguatkan hati. Mengingat pembicaraan saya dengan partner saat menuju ke Gua Maria Pereng, menjadikan perhentian ini sungguh bermakna. Sungguh tidak saya sadari, sebelum memulai darasan rosario, saya membaca perhentian ke-4 dalam Jalan Salib. Saya pun merinding seketika. (Bukan karena dingin)

Perhentian ini menunjukan bahwa Yesus yang berjumpa dengan Ibu-Nya. Saat itu para murid Yesus telah lari, sehingga Yesus harus menapaki jalan sengsara-Nya seorang diri. Tetapi dalam perjalanan sengsara ini ternyata masih ada Maria, ibu-Nya, yang setia menderita bersama Dia.

Mungkin saya dan anda selama ini selalu merasa bahwa kita sering berjalan menapaki sengsara seorang diri. Ketika dalam keadaan terpuruk kita ditinggalkan keluarga, saudara, kawan dan harus menghadapi seorang diri. Tak sedikit juga ada yang memilih untuk menyelesaikan sengsara dengan jalan pintas.

Dalam perhentian ini saya pun menyadari bahwa selama ini kita tidak pernah sadar ternyata selalu ada sosok setia yang menemani dari jarak yang sangat dekat. Hati yang tertutup dengan ketakutan, kecemasan dan depresilah yang membuat kita tidak dapat melihat dan merasakan sosok tersebut.

Mari, kita coba untuk mengosongkan bejana pikiran kita sejenak. Bawa ketakutan, kecemasan dan depresi kita menuju ruang hati terdalam. Tanpa perlu kita memanggil, sosok itulah yang akan menghampiri kita terlebih dahulu untuk memberikan penguatan bagi kita.

Terima kasih ya Bunda untuk datang menghampiri saya, dan tidak membiarkan saya menapaki jalan sengsara ini dengan seorang diri. 🙂

13.00 PM

“Lanjut mba. Tangki perut masih full 2 piring tadi pagi.”

“Hahaha. Bakal rapel makan malam lagi nih.”

Recommended Articles