Tidak penting apa pun agama atau sukumu… Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu… – K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Girimulyo, 30 October 2020 10.00 AM (Perhentian 7)
Kondisi lelah dan sedikit lapar membawa saya dan partner berhenti sejenak di salah satu mini market untuk membeli sepotong roti sebelum melanjutkan perjalanan. Walau hari masih pagi, kami harus segera mengejar waktu menuju tempat berikutnya karena ada janji yang harus kami tepati pada pukul 11.30 AM.
Selepas kunjungan dari Gua Maria Jatiningsih, langkah kaki membawa kami menuju Gua Maria Lawangsih. Jarak tempuh ke Gua Maria Lawangsih tidaklah terlalu jauh dari Gua Maria Jatiningsih.

Gua Maria Lawangsih pada awal mula merupakan sebuah gua yang penuh dengan kelelawar dan semak belukar. Lokasi Gua Maria ini berada di kawasan perbukitan menoreh, Dusun Patihombo, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Hal yang unik dari Gua Maria Lawangsing, terlihat adanya sungai kecil yang mengalir di dalam gua dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah.
Gua Maria Lawangsing sendiri memiliki makna mendalam yaitu Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan umat Katolik, Bunda Maria dipercaya sebagai perantara kepada Yesus (per Maria ad Jesum), putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.
Karena ini adalah kunjungan kali pertama bagi partner saya, dan kali kedua bagi saya setelah 4 tahun, membuat saya sedikit lupa kemana arah menuju kesana. Demi memperlancar perjalanan kami pun menggunakan Google Map untuk menuju ke Gua Maria Lawangsih.
Awal perjalanan, kami terlihat santai mengikuti kemana Google Map mengarahkan. Setelah setengah perjalanan, saya merasakan sebuah keganjilan saat melalui jalan yang sempit dan menanjak. Menurut daya ingat saya saat 4 tahun lalu, jalan menuju ke Gua Maria Lawangsih tidaklah rumit. Saat itu saya melalui jalan yang cukup lebar dan beraspal.
Tidak berselang lama masalah besar muncul saat kami menghadapi sebuah tanjakan tajam. Saat itulah partner saya mulai menyatakan ketidak sanggupannya.
“Mba… aku ga yakin buat nanjak.”

Saya mencoba untuk memberi keyakinan. Namun apa daya si Markey (Sebutan nama kendaraan kami) tidak sanggup lagi menanjak. Dia menyerah tanpa syarat (Bendera putih). Mulai timbul pergumulan dalam hati. Dimana hati ingin terus maju, namun kondisi tidak memungkinkan.
Berada dekat dengan tanjakan tersebut terlihat salah satu rumah warga yang memiliki pekarangan yang cukup luas. Dengan maksud mengistirahatkan Markey sekaligus bertanya apakah jalan yang kami lewati ini benar atau tidak, kami pun berhenti disitu.
Segera saya turun dan mencari pertolongan dari sang pemilik rumah. Seorang bapak menyambut kami dengan ramah. Saat kami bertanya, sang bapak membenarkan bahwa jalan yang kami lalui ini sudah tepat, namun ternyata jalan ini adalah jalan pintas yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.
Semangat seketika sirna namun masih ada tersimpan sedikit harapan untuk dapat sampai ke Gua Maria Lawangsih. Kami yang sudah melalui setengah perjalanan ini dihadapkan kepada pilihan tetap maju atau mundur teratur.
Melihat jarak yang masih sangat jauh dan tidak dapat ditempuh dengan berjalan kaki, maka saya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang bapak apakah ada ojek yang dapat mengantarkan kami untuk dapat sampai kesana. Karena juga tidak ada ojek disekitar situ, sang istri yang sedari tadi hanya memperhatikan pun menyahut :
“Pak mbok di anterkan mba’e. Mesakke” (Pak coba diantarkan saja mba nya. Kasihan)
Ya Tuhan, malaikat dari mana lagi yang Engkau kirimkan untuk kami? Dengan iklhlas sang bapak dan istrinya memperkenankan sepeda motor nya untuk dapat kami bawa sendiri atau beliau yang mengantarkan kami bolak-balik secara bergantian.
Dengan maksud tidak ingin merepotkan beliau, sebenarnya saya ingin membawa sepeda motor sendiri bersama partner saya. Namun kembali ada ragu dalam hati partner saya. Menurut dia secara proposional ukuran tubuh kami tidak seimbang. Saya yang lebih kecil harus menyetir di depan. Ditambah faktor waktu dan apakah kami tidak akan menyasar kembali bila menggunakan Google Map (Bertobatlah kau Google Map. Hahaha).
Pada akhirnya partner saya mengalah untuk tidak melanjutkan perjalanan dan tetap tinggal dirumah itu. Saya yang pergi seorang diri melanjutkan misi bersama dengan bapak pemilik rumah yang mengantarkan saya menggunakan sepeda motor. (My Trip My Adventure. Hahaha)
Selama dalam perjalanan, saya dan sang bapak membicarakan banyak hal dengan saling bertukar informasi tentang diri kami.
“Mba nya dari mana?”
“Saya dari Jakarta pak. Ini kebetulan liburan jadi sekalian ziarah. Pandemi begini bapak dan ibu sehat?”
“Alhamdulillah, sehat semua mba. Anak yang kecil saja kalo dirumah agak muyek kalau kuliah online-online gitu mba.”
“Alhamdulillah pak. Yang penting dan utama semua sehat ya pak.”
Sembari melihat jalan yang saya lalui, terdapat jawaban dibalik rasa ragu partner saya. Jalan yang kami lalui memang sangat rumit, memotong jalan, bahkan masih ada yang berbatu dan sama sekali tidak dapat dilalui mobil.
Setibanya di Gua Maria Lawangsing, saya segera saya turun dari sepeda motor. Dengan sangat tidak enak hati saya memohon kesediaan bapak untuk dapat menunggu saya paling lama 1 jam.
“Mau 1 jam atau lebih monggo, saya menunggu disini mba. Berdoa jangan terburu-buru nanti ada yang lupa. Titip doa juga untuk keluarga saya ya mba.”
Jawaban yang keluar dari kerendahan hati sang bapak membuat hati saya meleleh seketika dan penuh haru. Beliau yang tidak mengenal siapakah Sang Bunda Pintu Berkat yang akan saya kunjungi. Namun dengan keyakinan beliau, meminta saya untuk dapat mendoakan keluarga beliau. Pasti saya hantarkan doa terbaik yang bapak mohonkan kepada Tuhan kita Yang Maha Esa.

Udara sejuk pegunungan membawa saya hanyut dalam setiap darasan doa saya. Tidak terburu-buru namun dengan yakin membawa pengharapan pribadi dan juga pengharapan semua orang yang dititipkan. Kami yang nyaris menyerah ini akhirnya dapat sampai kesini walau hanya saya yang duduk seorang diri di hadapan Sang Bunda Pintu Berkat.
Setelah menyelesaikan ziarah di Gua Maria Lawangsih, segera saya turun menuju tempat parkir. Mengingat ada yang menunggu dibawah sana, saya urungkan segala keinginan untuk dapat menikmati pemandangan walau hanya sejenak. Ya Bunda Pintu Berkat, kiranya Tuhan berkenan membawa kami kembali kemari untuk dapat menikmati pemandangan di tempat ini.
Dalam perjalanan pulang sang bapak yang merupakan pensiunan PNS desa dalam bidang Keluarga Berencana menceritakan kerinduan beliau kepada anak lelakinya yang saat ini mengemban tugas sebagai guru di Yogyakarta. Beliau juga mencurahkan kesedihan dimana beliau hanya mampu memberikan pendidikan sebagai seorang guru untuk anak-anak beliau. Itulah cerminan hati dari seorang bapak yang berjuang untuk kebaikan semua anak-anak nya.
Setibanya dirumah beliau, dengan segala rasa syukur yang medalam, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak pemilik rumah dan sang istri. Mereka yang dengan hati mulia berkenan membantu kami yang orang asing ini.
Hallo Pak Wardi dan Bu Wartini. Semoga dengan cara Tuhan yang ajaib saat mempertemukan kita diwaktu itu, saya berharap bapak dan ibu dapat membaca tulisan saya ini dengan cara yang ajaib pula.
Akhirnya saya tahu bahwa segala bentuk Malaikat Tuhan tidak selalu bersayap namun pasti terang dan bercahaya. Semua itu sangat terlihat dari hati Bapak dan Ibu yang terang dan bercahaya.
Saya yakin dan percaya juga, walau bapak memiliki kesedihan dalam hati karena merasa belum dapat meberikan yang terbaik untuk anak-anak, anak-anak bapak dan ibu akan sangat bangga dengan apa yang mereka jalani dan miliki saat ini. Terlebih memiliki orang tua berhati mulia seperti bapak dan ibu yang tidak ternilai oleh apapun juga.
Selalu saya berharap dan berdoa untuk bapak dan ibu kiranya senantiasa diberikan rahmat kesehatan dan berkat kasih karunia dalam keluarga oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kiranya anak-anak bapak dan ibu boleh mencapai kesuksesan dan membawa kebanggaan bagi bapak dan ibu suatu saat nanti.

Karena waktu sudah semakin siang dan kami harus menepati janji untuk menjemput seseorang, kami pun segera berpamitan. Pak Wardi dan Bu Wartini sang pemilik hati mulia berharap kapan pun kami melewati rumah itu, kami berkenan untuk dapat kembali berkunjung.
Melalui peristiwa ini membawa saya kepada sebuah keyakinan bahwa Tuhan yang SATU memiliki banyak tangan dalam berbagai bentuk dan rupa untuk diulurkan kepada kita ketika kita jatuh.
Sebuah pepatah jepang mengatakan : Jatuh 7 kali, Bangkit 8 kali.
Dalam peristiwa itu bisa saja saya memilih mundur dan menyerah. Namun ternyata kasih Tuhan selalu lebih banyak dari apa yang kita pikirkan. Tuhan akan selalu mengulurkan tanganNya lebih banyak dari jumlah kejatuhan kita.
Kita tidak akan pernah bisa memilih oleh siapa kamu akan diberikan kebaikan dan kepada siapa kamu akan memberikan kebaikan. Maka jangan pernah menepis setiap uluran tangan Tuhan walau mungkin kita melihat ada suatu bentuk yang BERBEDA dari biasanya. Karena sesungguhnya PELANGI itu terlihat jauh lebih indah dengan warna nya yang berbagai rupa. 🙂
11.00 AM
“Kalian posisi dimana? Ini Romo sudah menunggu.”
“OTW. Jalan menurun dari Lawangsih Suster. Kecepatan maksimal dengan mendebarkan. Hahaha.”

aku bener2 bisa ikut menikmati perjalanannya walaupun cuman via tulisan…
many thanks for sharing
Terima kasih juga telah membaca perjalanan saya dalam tulisan yang masih jauh dari sempurna ini. Semoga menjadi berkat bagi kehidupan kita semua. Salam sehat untuk keluarga 🙂