MUSEUM PESAWAT TNI AU MANDALA

BERSIAPLAH TERBANG TINGGI TANPA HARUS MENEMBAK JATUH PESAWAT LAINNYA.

Bunyi alarm membangunkan ku ditengah laju jalannya kereta. Ku lirik sejenak pemandangan diluar jendela yang masih terlihat gelap. Menarik napas sejenak, mengambil Rosario yang terkalung dileherku dan mulai menyapa Sang pemilik hidup untuk bersyukur atas hari baru.

Perjalanan saat itu membawa ku kembali menuju kota berhati nyaman. Melihat waktu perkiraan tiba yang sebentar lagi handphone ku mulai berdering. Terdengar suara ceria di sebrang sana :

“Tan… uda sampe mana? Tunggu bentar ya tan, kita mau jalan.”

Tiba di tujuan dan menghirup udara baru di tempat yang berbeda, membangkitkan kembali daya kerja otak yang belakangan ini sedikit mengalami penurunan akibat Post Covid Syndrome. Berdiri di ujung lorong aku menanti mereka yang sudah antusias di sebrang sana menjemput ku. Berhenti sebuah mobil di depan ku. Baru saja aku mau mengangkut barang ke bagasi belakang mobil mereka sudah berteriak dari dalam, “TANTE!”

Kendaraan bergerak dan memberhentikan kami di salah satu rumah makan di sekitar Kota Gede. Sembari menyantap Sop Ayam Pak Min sebagai sajen pembuka, si bungsu bertanya :

“Tan… habis ini kita mau kemana?”

Hari itu memang sudah aku rencanakan untuk membawa 2 keponakan nan kreatif ini untuk berjalan-jalan. Sudah lama mereka menantikan ku yang sudah berbulan-bulan tak kunjung hadir. Ku tawarkan mereka hari itu ke Museum Pesawat milik TNI AU yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Dan si sulung menyambut girang.

“Wes,,, tante datang, mama gak laku.” Celetuk si mama anak-anak.

“Tapi kita naik GoCar aja ya. Tante capek nyetir.”

Pagi itu fisik ku memang kurang baik. Mengambil cuti panjang, disamping hendak menghadiri Komuni Pertama keponakan ku, aku memang punya agenda lain untuk memulihkan kesehatan yang sudah lama kurang baik.

Setelah melepas kedua orang tua mereka bekerja, mandi dan beberes, berangkatlah aku dan 2 keponakan dengan GoCar menuju Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. Museum yang beralamat di Kompleks Landasan Udara Adisucipto, Jl. Raya Janti, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini dapat diakses dengan mudah. Anda dapat masuk dari gerbang Kompleks TNI AU sebelah barat tepat di bawah jalan keluar Jembatan Janti apabila anda hendak kearah selatan. Lokasinya yang masih berada di dalam Kompleks TNI AU mengharuskan pengunjung untuk menitipkan ID seperti KTP untuk dapat memasuki kawasan. Tiket masuk kedalam museum masih terbilang murah. Untuk kami bertiga, 1 dewasa dan 2 anak-anak kami diharuskan membayar sebesar 20 ribu rupiah.

Museum ini merupakan gagasan dari TNI Angkatan Udara. Museum ini berisi koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Angkatan Udara. Museum ini juga menyimpan foto dan barang-barang pribadi dari tokoh-tokoh sejarah Angkatan Udara Indonesia. Banyak pesawat tempur dan replika dari masa Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang dipajang di museum ini.

Saat itu pengunjung cukup ramai dengan beberapa rombongan Studi Tour anak-anak. Namun kami yang tidak terpengaruh dengan keramaian memasuki setiap sudut ruangan dengan prokes, santai, menunggu dan tidak berkerumun. Berhentilah kami di salah satu ruangan yang menampilkan beberapa tokoh perintis Angkatan Udara dan berbicaralah si sulung :

“Tan… itu Pak Adisujipto nama Bandara? Namanya sama kaya aku ya Agustinus. Kok punya salib juga tan?”

Barang Pribadi Adisujipto

Pertanyaan si sulung mengharuskan aku membaca dengan cepat pada papan deskripsi dari barang-barang yang ditampilkan untuk menjelaskan tentang Pak Adisujipto yang si sulung pertanyakan. Memang beginilah proses belajar anak. Bukan anak saja yang belajar namun kita yang mengajarkan juga harus mempelajari apa yang akan diajarkan.

Agustinus Adisutjipto. Seorang pahlawan nasional dengan iman Katolik yang merupakan salah satu dari tiga orang perintis Angakatan Udara selain Abdulrachman Saleh dan Adi Soemarmo.

3 Perintis Angakatan Udara

Ketiganya gugur bersamaan dengan Pesawat Dakota VT-CLA saat mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.

Seorang pahlawan nasional yang memiliki barang pribadi seperti salib menjadi pertanyaan unik bagi si sulung. Mungkin dalam pikirannya tidak ada seorang pahlawan nasional yang memiliki iman Katolik seperti beliau. Disamping itu, kesamaan nama yang mereka miliki membuat si sulung semakin penasaran. Ku jelaskan kembali arti tentang sebuah perjuangan kemerdekaan untuk 2 keponakan nan kreatif ini.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, kehendak berkehidupan kebangsaan yang bebas adalah keinginan semua rakyat Indonesia. Semua rakyat berjuang bahu membahu untuk mewujudkan keinginan yang luhur membentuk suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Perjuangan bangsa adalah kewajiban. Dan kemerdekaan adalah hak bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang suku, ras, agama, status sosial dan perbedaan lainnya.

Kuingatkan kembali untuk mereka berdua para generasi penerus bangsa untuk terus belajar. Belajar bebas dan merdeka. Belajar tidak hanya menjadi pintar namun juga peduli.

“BERSIAPLAH TERBANG TINGGI TANPA HARUS MENEMBAK JATUH PESAWAT LAINNYA.”

Begitulah pesanku.

Hari sudah semakin siang. Anak-anak juga sudah semakin lapar. Kami akhiri wisata sejarah kami hari itu untuk mencari mall terdekat sehingga anak-anak dapat menikmati makan siang mereka.

Diluar dugaan handphone ku saat itu mengalami kendala sinyal. Mencoba menggunakan 2 provider yang berbeda masih saja menyulitkan ku untuk membuka aplikasi untuk memesan GoCar. Tidak kehilangan akal aku mebawa mereka ke tepi jalan raya besar dengan harapan dapat menemukan sinyal. Namun apa daya kendala itu masih kami bawa. Tidak hilang akal, aku telepon mama si anak-anak untuk membatu kami memesan GoCar. Puji Tuhan hal itu dapat dilakukan.

Duduklah kami bertiga di tepi jalan raya sambil menunggu GoCar pesanan.

“Ok. Pelajaran buat kita ya. Kalo kesini lagi harus bawa mobil, jangan pakai GoCar. Susah sinyal mau pesan Gocar” ucap ku.

“Ya kan tante yang ga mau nyetir bawa mobil.” sahut si bungsu nan ceriwis.

Tertawa lepas sambil ngebatin. Wes jian… cah cilik yo kok pinter le jawab.

Recommended Articles