Jangan pernah mencoba membaca hati dan pikirannya kalau membaca sebaris syntax error program atau buku ratusan halaman saja kamu enggan. Sudahi dan tutup saja buku kisah itu.
Jakarta, 29 May 2021
Sebuah perasaan ketika membuka folder karya tulisan, setelah sekian purnama hanya membuka folder karya pemrograman, seperti sebuah perasaan membuka kaleng Khong Guan yang isinya penuh biskuit bukan lagi kerupuk bawang.
Setelah 3 hari lalu mengikuti pendalaman iman yang dibawakan oleh Romo Reynaldo Antoni, PR dengan tema “Bagaimana Relasiku Dengan Dunia Digital?”, membawa saya kembali mendapatkan inspirasi dan motivasi untuk menghadirkan sebuah tulisan. Dalam satu kesempatan beliau menuturkan bahwa untuk tidak takut kehilangan inspirasi. Sebuah karya akan selalu tercipta dalam kondisi apapun juga bahkan pada masa demotivasi, sakit, kesibukan, kesedihan dan keterpurukan sekalipun dengan memaknai kehendak Tuhan dalam setiap persoalah hidup.
Inspirasi tulisan saya kali ini berawal dari sebuah cuitan pada social media Twitter yang menampilkan sebuah survey “PERINGKAT NEGARA DENGAN MINAT BACA TERTINGGI DUNIA” dengan Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara. Topik ini memang sedikit menggelitik ketika dilemparkan oleh beberapa akun Garis Lucu Twitter. Menangkap cuitan dengan membandingkan pola kehidupan Warga Negara Indonesia, tidak sedikit warganet yang mendukung dan menjadikan survey ini sebagai sebuah gelar yang memang layak disematkan untuk Warga Negara Indonesia.

Alih-alih ikut mendukung sebagian warganet, saya lebih tertarik membahas penyebab dibalik gelar itu sebagai sebuah diskusi singkat antara saya dengan atasan di waktu istirahat kerja kami. Topik ini menjadi menarik karena kesamaan minat kami dalam membaca buku. Tidak jarang pula saya meminjam beberapa buku dari beliau dan juga melakukan bedah buku bersama disela-sela istirahat kesibukan kami dikantor. Namun melihat survey tersebut ternyata kehadiran minat kami ini tidak dapat turut menyumbang untuk menaikan peringkat Indonesia dalam minat membaca.
Beberapa pemerhati di Indonesia banyak yang telah melakukan penelitian terkait penyebab rendahnya minat membaca di Indonesia terutama anak-anak. Melalui tulisan ini saya tidak akan membuat sebuah penelitian yang sama, melainkan saya mencoba merangkum hasil penelitian yang telah ada dengan pengalaman pribadi dan hasil diskusi singkat saya. Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab kurangnya minat membaca (anak pada khususnya) di Indonesia :
Keluarga (Orang Tua)
Saya sebagai golongan Gen Y dengan masa kecil yang belum merasakan hadirnya gawai dengan teknologi canggih mendapatkan contoh gemar membaca dari papa saya yang setiap hari membaca koran, buku atau majalah olahraga setiap beliau pulang bekerja. Pada masa tertentu pula, beliau akan sangat perhitungan ketika saya meminta mainan sebagai hadiah. Namun beliau akan sangat royal ketika saya membawa setumpuk buku dihadapan kasir Gramedia.
Menurut beberapa peneliti, keluarga merupakan wadah awal sifat dan kebiasaan anak dapat terbentuk. Namun beberapa orang tua sering mengabaikan dan menganggap bahwa masa anak-anak adalah masa bermain. Orang tua kurang memberikan motivasi dan contoh kepada anaknya untuk menumbuhkan minat membaca pada anak.
Lingkungan (Sekolah & Masyarakat)
Sebagai seorang ayah dengan 2 anak dari golongan Gen Z, saya bertanya kepada atasan saya dimana kegemaran membaca bukunya tidak perlu diragukan lagi. Dari kedua anak beliau apakah memiliki minat membaca yang sama dengan beliau? Secara mengejutkan jawabannya adalah “Tidak”. Dalam hal ini keluarga dan orang tua bukan lagi menjadi faktor utama penyebab kurangnya minat membaca terutama pada anak.
Mengingat ide pendidikan yang bebas dan merdeka yang diciptakan oleh Romo Mangun dimana pernah saya tuliskan sebelumnya (Labirin Eksploratif Nan Kreatf Kuwera), Romo Mangun memiliki pandangan bahwa membentuk sebuah karakter yang baik harus melewati sebuah tahapan dasar dimana lingkungan pendidikan sekolah dasar menjadi salah satu awal permulaan manusia dapat membentuk karakternya.
Hal itu pula yang meyakinkan saya bahwa sekolah turut berperan besar membentuk karakter manusia ketika atasan saya mencoba membandingkan metode sekolah anak beliau dengan anak sepupunya yang berada di Amerika. Pendidikan di Amerika memberikan penekanan kepada perkembangan minat dan bakat anak. Berbanding terbalik ketika anak beliau selalu dihadapkan dengan tugas-tugas akademik sekolah di Indonesia. Mayoritas metode pendidikan di Indonesia masih menekankan anak untuk bersaing dalam peringkat dan mengabaikan perkembangan karakter, minat dan bakat pada anak.
Menarik waktu kebelakang, saya merasa beruntung melewati masa pendidikan dimana sekolah saya dulu selalu mengadakan lomba membuat synopsis dan story telling. Walaupun saat itu motivasi saya mengikuti lomba hanya untuk mendapatkan reward namun dari proses itu minat membaca saya terbentuk.
Akses (Perpustakaan & Media Membaca)
Tidak dapat dipungkiri Toko Buku dan Perpustakaan merupakan tempat yang masih sulit untuk diakses bagi beberapa orang terutama mereka yang tinggal diwilayah pedalaman. Tidak hanya dimasa kini tapi juga dimasa yang lalu.
Sebagian besar perpustakaan hanya dimiliki oleh sekolah / universitas yang hanya dapat diakses oleh mereka yang mengenyam pendidikan disekolah tersebut. Dan buku-buku yang ada juga hanya terbatas untuk mendukung materi kurikulum sekolah. Untuk memperoleh jenis buku diluar kurikulum sekolah, toko buku dan perpustakaan umumlah yang menjadi alternatif pilihan. Sebagai contoh saya yang pernah tinggal dipedalaman Kalimantan harus menempuh perjalanan darat Trans Kalimantan selama 3 jam untuk dapat menemukan Toko Buku besar seperti Gramedia.
Seiring dengan perkembangan zaman era digital mayoritas generasi muda telah menempatkan Gawai sebagai salah satu kebutuhan yang utama. Apapun dapat mereka akses melalui Gawai. Dari perkembangan era digital inilah seharusnya dapat menjadi jalan untuk merangkul generasi muda menumbuhkan minat membaca mereka. Beberapa media masa konvensional seperti koran dan majalah telah beralih kepada media online. Hal ini seharusnya dapat menjadi contoh kepada penerbit-penerbit besar di Indonesia dengan menerbitkan buku-buku dalam format digital sehingga dapat mengatasi keterbatasan akses.
Bagi saya perpustakaan merupakan taman bermain, namun tidak bagi orang-orang yang lahir pada era digital. Bagi mereka perpustakaan adalah tempat yang membosankan. Banyak anak muda yang lebih rela menghabiskan waktu berjam-jam mereka di kafe dan tempat hits kekinian daripada harus berada di perpustakaan. Melihat negara besar seperti Jepang dan Korea yang memiliki banyak Library Café di negara mereka, seharusnya dapat menjadi contoh bagi Indonesia untuk dapat mengubah image perpustakaan bukan lagi sebagai tempat yang membosankan melainkan tempat yang menyenangkan.

Melalui tulisan ini besar harapan bagi masa depan bangsa dapat menemukan rasa ingin tahu mereka dengan tidak cepat berasumsi dan menarik kesimpulan hanya dari lisan (mendengar) tanpa mencari kebenaran dengan tulisan (membaca). Lebih cepat berkomentar daripada melihat isi berita.
Tidak mengherankan apabila Microsoft turut memberikan label kepada warganet Indonesia sebagai negara paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Semua efek domino ini terjadi apabila Warga Negara Indonesia memiliki karakter yang baik dengan menjawab rasa ingin tahu mereka dengan mencari kebenaran dalam ilmu pengetahuan yang hanya dapat ditemukan dengan membaca sebanyak mungkin.
Menutup tulisan ini, saya yang juga merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia yang mendapatkan predikat minat membaca rendah merasa tertantang untuk menularkan bahwa membaca adalah salah satu hal yang menyenangkan. Tidak hanya menyudutkan satu pihak namun menumbuhkan kesadaran yang juga menjadi tanggung jawab kita bersama.
