SURAT CINTA UNTUK KU

Yogyakarta, 1 January 2021 08.30 AM

Teruntuk diriku yang terkasih,

Bersama dengan cahaya mentari dan dihadapan wajah Sang Sabda, aku ingin duduk bersama mu menyambut hari baru. 

Terima kasih untuk perjuangan mu dalam menemukan JIWA.

Terima kasih untuk mau menanggalkan semua ego dan berusaha mengerti serta menerima setiap rancangan jalan dari Sang Sabda.

Aku tahu bahwa perjuangan mu belum usai, bahkan baru akan dimulai. Akan ada jalan yang lebih menantang didepan sana yang siap menanti mu.

Jalan mu akan semakin berbatu, berliku, menanjak bahkan sampai hilang arah. Bawalah selalu bekal kesabaran, keteguhan hati dan kehendak yang kuat untuk menemani setiap langkah perjalanan mu.

Janganlah tawar hati apabila dalam perjalanan kamu menemukan banyak rupa yang mengharapkan Kasih dari padamu. Berikanlah Kasih itu dengan tulus sebanyak yang kamu miliki tanpa berharap akan berbalas kembali. Sesungguhnya Kasih yang kamu miliki tidak akan pernah habis dan berkesudahan.

Janganlah murka apabila kamu bertemu dengan rupa yang akan mengambil dengan paksa Kasih yang kamu miliki. Relakanlah bagi mereka. Sesungguhnya rupa itu haus akan Kasih dan mereka lebih membutuhkannya daripada mu.

Janganlah kecewa apabila kamu tidak menemukan apa yang kamu cari. Tetaplah dalam sabar dan yakin mu. Sesungguhnya Sang Sabda telah menyediakan apa yang kamu butuhkan, disebuah tempat terindah dan diwaktu yang tidak terduga. Yang aku tahu, sesuatu akan datang menghampiri mu tanpa perlu kamu mencarinya.

Janganlah takut apabila kamu menemukan jalan bercabang, dingin dan gelap. Nyalakanlah cahaya hati mu. Sesungguhnya hati mu akan memancarkan sinar kehangatan dan kamu akan melihat jalan terang kemana kamu akan berjalan.

Janganlah kecil hati apabila kamu bertemu dengan si jurang “Menyerah”. Dia yang pandai merayu akan meminta mu untuk selalu melihat kebawah. Tetaplah berjalan maju dengan yakin tanpa melihat kebawah. Sesungguhnya kamu telah memperoleh Kasih Karunia yang teramat besar yang terkadang tidak kamu sadari. Kamu dapat melewati jurang itu melalui jembatan “Tangan Tuhan” yang tidak dapat terlihat oleh mata namun hanya dengan hati.

Wahai diriku yang terkasih. Tahukah kamu betapa aku sangat mencintaimu. Kamu adalah pribadi yang layak untuk mencintai dan dicintai. Aku yang selama ini memandang mu dari kejahuan dan mengharapkan mu dalam diam, hanya dapat meminta kepada Sang Sabda agar kita dapat dipersatukan. Aku berharap kita dapat berdamai, saling mengampuni dan melupakan semua yang telah terjadi dimasa lalu. 

Wahai diriku yang terkasih. Gapai dan genggamlah tangan ku agar kita dapat berjalan bersama. Bersandarlah dibahu ku agar kita dapat menangis dan kuat bersama. Peluklah aku agar kita dapat saling memberikan kehangatan Kasih. Simpanlah segala perkara dan berceritalah hanya kepada ku saja untuk membuat hati mu lega.

Wahai diriku yang terkasih.

Tetaplah menjadi sebuah kanvas putih yang bersih agar Sang Sabda dapat selalu MENOREHkan karya tangan terindahNya didalam dirimu.

CINTA dan RESTU Sang Sabda akan selalu ada untuk mu.

Dari AKU yang mengasihi MU.

(Bukan penulis bukan juga pujangga. Hanya orang biasa yang mendapatkan pencerahan dapat berbahasa puitis nan manis.)

Recommended Articles