Seperti janji saya pada postingan “Gua Maria Rosa Mystica” tentang cerita legenda Sumber Air Kesembuhan, maka kali ini saya akan bercerita tentang Sumber Air Kesembuhan yang berada di sekitar Gua Maria Rosa Mystica. Karena saya bukan ahli sejarah ataupun warga asli desa tersebut, maka segala sesuatu yang akan saya tulis, akan saya kutip dari beberapa sumber dan tulisan yang pernah ada.
Gua Maria Rosa Mystica merupakan sebuah tempat ziarah umat Katolik di Indonesia. Gua Maria ini terletak di Banyuurip, Delik, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah. Ciri khas dari tempat ziarah ini terdapat sebuah sendang / sumber mata air yang konon katanya dapat meyembuhkan segala macam penyakit.
Letak sumber mata air dengan Gua Maria Rosa Mystica berada pada jarak yang tidak terlalu jauh. Gua Maria Rosa Mystica berada di atas bukit dari jalan besar, sedangkan untuk sumber mata airnya berada di bawah lembah dari jalan besar.
Mengutip dari http://ziarah-santa-maria.blogspot.com , tempat ziarah religius di Banyuurip tidak hanya dikunjungi umat Katolik, namun juga mereka yang menginginkan pemantapan iman dengan harapan mendapat berkah percaya diri untuk mengapai cita-cita.
Menurut legenda, di sana ada pasangan kakek-nenek yang berhasil mengobati seorang pangeran dari Surakarta dengan menggunakan air tersebut.
Pada jaman dahulu kala, ada seorang pangeran dari Surakarta yang melakukan perjalanan dengan niat menghadap Raja Pandanaran di Semarang, dia dikawal oleh para hambanya dengan mengendarai kuda. Tiba-tiba kuda sang Pangeran terperosok ke dalam jurang yang dalam, akibatnya sang Pangeran meninggal dunia.
Para hamba berduka, tiba-tiba mereka didatangi oleh sepasang kakek-nenek, Kyai dan Nyai Mangunsari, menyuruh para hamba membasuh wajah Pangeran dengan air dari sendang dekat jurang, karena sang Pangeran belum tiba saatnya meninggal dunia.
Seorang hamba langsung membasuh wajah sang Pangeran dengan air sendang dan seketika itu sang Pangeran hidup kembali. Dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga, sang Pangeran dan para hamba bersitirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun mereka heran karena kakek-nenek itu hilang seketika dari pandangan.
Atas pengalaman itu, Sang Pangeran menjuluki sendang tersebut dengan nama Sendang Banyuurip, dan desa itu sampai sekarang dikenal sebagai Desa Banyuurip. Hingga kini, secara turun-temurun, jika ada orang sakit dan percaya, maka diambilkan air dari Sendang Banyuurip sebagai sarana penyembuhannya.

Pada postingan saya tentang “Gua Maria Rosa Mystica” , diceritakan sebelumnya saya berkunjung kesana saat malam hari, kondisi gelap dan saya hanya berdoa tanpa menyalakan lilin sembari mengambil 2 botol kecil saja. Namun karena 1 dan lain hal, saya akhirnya kembali ke tempat tersebut dipagi harinya.
Saat saya kembali berkunjung dipagi harinya, saya bertemu dengan seorang penjaga Sendang bernama Pak Edy. Pak Edy inilah yang akan membantu para pengunjung mengambilkan air dari sumur sumber mata air sembari menceritakan legenda dan kiat-kiat untuk mencapai maksud dan tujuan seseorang datang ketempat tersebut.
Diceritakan oleh Pak Edy ada banyak orang yang datang hanya untuk sekedar mengambil air, namun tidak sedikit pula ada yang mandi di tempat tersebut. Maka ditempat tersebut disediakanlah 2 kamar mandi tepat di depan sumur sumber mata air apabila ada yang ingin melakukan ritual mandi. Saya pun tidak heran saat saya menemukan adanya sisa-sisa kembang dikamar mandi hehehe.
Setelah dibantu oleh Pak Edy mengambil air, saya pun menyalakan lilin dan berdoa tepat didepan patung Bunda Maria yang juga berada didekat sumur tersebut. Doa berakhir saya pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Sebagian penduduk asli jawa, terlepas dari segi kebenaran cerita, masih banyak yang mempercayai hal-hal terkait legenda dari para leluluh mereka. Tidak hanya di jawa saja ya, saya rasa dibeberapa daerah di Indonesia juga bahkan diluar Indonesia juga masih banyak yang mempercayai warisan lelulur.
Bagi saya tidak ada salahnya mempercayai dan mempertahankan budaya warisan leluhur selama itu menunjukan arah kebaikan. Memohon rahmat melalui air sebagai media bukanlah suatu hal yang menunjukan seseorang tidak beriman bila disertai dengan doa dan pengharapan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Berdoalah untuk meminta karunia Rahmat Allah. Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
