Ada kuasa dalam doa.
Kediri, 27 December 2024, 20.00 PM
Semenjak subuh, saya sudah bersiap dari Rumah di Jogja untuk memulai kembali perjalanan solo trip diakhir tahun. Setelah sebelumnya seorang kawan membatalkan rencana perjalanan kami karena urusan pribadi, maka secepat kilat pula saya mengubah haluan perjalanan yang sama sekali tidak direncanakan. Memang benar, semua hal yang tidak direncanakan akan lebih mudah untuk dijalankan daripada yang direncanakan tapi endingnya ambyar makpyar.
Setelah mencuci tempat bekal yang dibawakan ibu saya tadi pagi, terduduklah saya didepan laptop sambil merenung kembali setiap momen dan perjalanan hari ini. Berawal dari moment perpisahan dan gambaran Cinta Orang Tua yang selalu luar biasa.

Perjalanan saya kali ini dari Jogja menuju Kediri hanya memakan waktu 3 jam menggunakan kereta. Ibu yang tidak ingin anaknya kelaparan dijalan, sudah sangat repot mempersiapkan sarapan dan bekal untuk dibawa.
Setelah selesai mandi dan membereskan koper, saya menuju ruang makan untuk sarapan. Makanan sederhana penuh cinta dan selalu dirindukan saat merantau di Jakarta. Ibu saya masih terlihat wara-wiri membuka kulkas dan meminta Mba ART untuk menggorengkan beberapa ayam kampung. Mengambil tempat bekal dan mengisi sebagian tempat dengan nasi. Disisi lain Papi bersemangat memegang pisau andalan, siap memotong pisang raja hasil dari kebun sendiri untuk tambahan bekal yang akan saya bawa. Yes, I’m living like a princess for a while.
“Put, semalam ibu kuatir kamu sakit. Ini hati ayamnya ibu bawakan ya buat kamu ya.”
Begitu ucapan Ibu sesaat setelah Mba ART membawa setumpuk ayam kampung hangat yang baru saja digoreng. Tubuh saya saat berada di Jogja memang sedikit kurang fit karena perubahan cuaca yang secara tiba-tiba. Ya waktu itu Jogja memang sangat dingin.

Tepat pukul 08.00 AM kami berangkat dari rumah. Saya duduk dibangku pengemudi dengan Ibu disebelah kiri saya dan tentu saja Papi lebih memilih duduk santai di bangku belakang. 1 jam menuju Stasiun Tugu dari Kulon Progo membawa kami bertiga pada percakapan yang ceria dan menghibur. Membuat beberapa perencanaan yang entah kapan bisa dilaksanakan. Satu yang pasti dari setiap rencana hanya kami bawa selalu kedalam doa dan pengharapan.
Stasiun memang selalu menjadi tempat perjumpaan dan perpisahan. Perjumpaan dengan pelukan senyum serta tawa dan perpisahan selalu dengan mata berkaca-kaca dari seroang Ibu dan gaya tegar dari seorang Papi yang dalam hatinya pasti ada kekuatiran.
Sebelum cuti Natal, teman saya pernah mengutarakan suatu pandangan setelah saya mengeluh waktu cuti dan pulang diakhir tahun pasti akan sangat ramai dalam perjalanan.
“Dinikmati saja. Kamu sudah 4 tahun tidak pernah pulang saat Natal atau Paskah. Mungkin ini adalah jawaban dari doa orang lain yang Tuhan kabulkan.” Begitu kata teman saya.
2 tahun belakangan saya memang sangat sibuk dan jarang pulang. Bisa merasakan Natal bersama walau hanya 4 hari setelah 4 tahun tidak pernah merayakan Natal dirumah mungkin bisa menjadi salah satu jawaban doa orang tua yang Tuhan kabulkan.
Papi & Ibu, pamit ya. I just wanna say I Love You Sekebon.

Terima Kasih Jogja. Disambut dengan awan gelap namun diantar pulang dengan cuaca yang cerah.
Tidak terasa dari 5 potong tahu petis yang saya beli di Simpang Lima Gumul tadi sudah tersisa 2. Mengintip sejenak dari jendela hotel ingin turun membeli sedikit nasi kucing dipinggir jalan namun kaki sudah jauh lebih lelah daripada perut yang meronta-ronta. Mari kita melanjutkan menulis perjalanan kisah ini saja di kota Ken Arok.
